Cara Menentukan Awal dan Akhir Romadhan - El Majalis

Breaking

Koleksi Sifa

Juni 23, 2013

Cara Menentukan Awal dan Akhir Romadhan

Saat bulan Romadhan sudah diambang pintu, sering kali timbul perselisihan atau perbedaan pendapat di kalangan kaum muslimin terkait kapan masuknya awal bulan Romadhan. Dan hal ini terjadi disebabkan oleh adanya perbedaan pandangan dalam hal cara menentukan awal bulan Romadhan tersebut.
Oleh karena itu, agar kita tidak kebingungan dengan adanya perbedaan pendapat tersebut, berikut ini saya akan sedikit menjelaskan tentang bagaimana ketentuan dan petunjuk Islam terkait bagaimana cara menentukan aawal Romadhan.
Cara menentukan awal bulan Romadhan
Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam sejak dini telah memberikan petunjuk kepada umatnya tentang cara menentukan awal bulan romadhan. Yaitu dengan dua cara tidak ada yang ketiganya;
      Pertama: Rukyatul Hilal (melihat hilal)
Berdasarkan sabda Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, “Berpuasalah kalian ketika melihat hilal dan berbukalah ketika melihat hilal, jika terhalang oleh mendung, Maka sempurnakan bilangan bulan sya’ban tiga puluh hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam potongan hadits di atas dinyatakan bahwa berpuasa dimulai jika hilal sudah terlihat oleh mata begitu juga dengan akhir bulan romadhan juga ditentukan dengan rukyahtul hilal.
     Kedua: Menyempurnakan bilangan bulan sya’ban tiga puluh hari
Sebagaimana disebutkan dalam potangan hadits di atas, ketika hilal tidak terlihat karena disebabkan oleh adanya mendung atau kabut atau penghalang lainnya, maka cara harus menyempurnakan bilangan bulan sya’ban sebanyak tiga puluh hari.
Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “...jika terhalang oleh mendung, Maka sempurnakan bilangan bulan sya’ban tiga puluh hari.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Bolehkah melihat hilal dengan menggunakan alat bantu seperti teropong?
 
Alat bantu atau teropong merupakan sarana atau fasilitas yang digunakan untuk memudahkan manusia untuk melihat hilal ssaja tidak lebih dari itu. Jadi menggunakannya boleh-boleh saja.
Hal ini pernah ditanyakan kepada syaikh Abdul Aziz bin Baz rh, dimana kesimpulan dari jawaban beliau adalah sah melihat hilal dengan memakai alat bantu (teropong), atau naik ke gunung, menara atau dengan cara lainnya asalkan melihatnya dengan mata kepala.
Cukupkah satu orang saja yang melihat Hilal?
Menurut mayoritas para ulama jika seorang yang adil melihat hilal awal romadhan, maka persaksiannya diterima dan diamalkan. Berdasarkan riwayat dari bahwa Ibnu ‘Umar bahwa beliau berkata, “Manusia saling melihat hilal, maka aku mengabarkan kepada Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa sesungguhnya aku telah melihatnya (hilal), lantas Nabi saw berpuasa dan memerintahkan manusia berpuasa. (HR. Abu Dawud)
 Inilah diantara permasalahan yang berkaitan dengan cara penentuan awal bulan Romadhan, semoga bisa menambah wawasan bagi pembaca dan penulisnya. Amin
Wallahu A’lam
 

Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman