Seputar Orang Yang Tidak Wajib Berpuasa (bagian 2) - El Majalis

Breaking

Koleksi Sifa

Juni 08, 2018

Seputar Orang Yang Tidak Wajib Berpuasa (bagian 2)

Diantara orang yang tidak wajib berpuasa akan tetapi dia tetap wajib mengqodhonya di luar bulan romadhan adalah:

6. Musafir (orang yang sedang bepergian jauh). Dibolehkan bagi musafir berbuka atau berpuasa secara mutlak, berdasarkan hadist Ibnu Abbas ra beliau berkata: “Nabi saw melakukan safar pada bulan Romadhon, sesampai di ‘asafan (nama sebuah tempat di antara Makkah dan Madinah) beliau meminta secangkir air kemudian diminumnya pada siang hari agar dilihat oleh manusia bahwa beliau telah berbuka sampai tiba di Makkah. Dan Thowus (salah satu murid ibnu Abbas) berkata: Ibnu Abbas bertutur: Nabi saw berpuasa dan berbuka di saat safar. Barang siapa yang hendak berpuasa silahkan dan yang ingin berbukapun tidak mengapa). (HR. Bukhari).

Akan tetapi harus memenuhi beberapa syarat berikut, yaitu:

·        Hendaknya safar menempuh jarak sekitar lebih kurang 80 km menurut pendapat sebagian ulama.

·        Harus sudah melintasi daerah tempat ia tinggal. Dan hendaknya safar bukan dalam rangka untuk maksiat menurut pendapat mayoritas ulama.

·        Tidak menjadikan safar sebagai jalan atau siasat agar bisa berbuka.

Boleh Memilih

a)     Dibolehkan bagi musafir untuk memilih antara puasa atau berbuka baik safarnya itu lama ataupun sebentar, baik safarnya kadang-kadang ataupun terus menerus seperti sopir bus atau pilot. Akan tetapi yang terbaik bagi musafir adalah melakukan hal yang mudah dan gampang baginya antara berpuasa atau berbuka.

b)    Apabila musafir merasa keberatan atau capek untuk berpuasa, maka hendaklah ia berbuka dan makruh baginya berpuasa, sebagaimana sabda Nabi saw tatkala melihat manusia merasa capek karena puasa “Bukanlah suatu kebaikan berpuasa dalam keadaan safar”.(HR. Ibnu Hibban dll).

Niat berbuka

a)     Barangsiapa yang berniat melakukan safar, maka tidak boleh baginya untuk niat berbuka sampai ia melakukan safar, karena dikhawatirkan ada hal yang menghalangi dia untuk berangkat. Dan tidak berbuka kecuali dia telah keluar dari daerahnya.

b)    Apabila seorang musafir datang dari safarnya dalam keadaan berbuka, apakah ia harus menahan sisa hari itu atau tidak? Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, tapi yang lebih selamat, hendaklah ia tidak makan di depan orang, karena dikahwatirkan timbul buruk sangka dari yang melihatnya, karena sebab bolehnya dia berbuka tersembunyi atau tidak nampak.

c)     Barangsiapa yang sampai di satu negeri lantas dia berniat untuk menetap di negeri tersebut selama lebih dari empat hari, maka wajib baginya berpuasa menurut pendapat mayoritas para ulama.

d)    Apabila seseorang mulai berpuasa di negerinya kemudian safar ke salah satu negeri dimana waktu berpuasa di negri tersebut berbeda dengan waktu di negerinya, maka hukumnya seperti hukum orang yang tinggal di tempat tersebut baik waktu berpuasa atau berbuka, sekalipun dalam hitungannya lebih dari tiga puluh hari. Berdasarkan sabda Nabi saw, “Berpuasa pada hari mereka berpuasa dan berbuka pada hari mereka berbuka”. Apabila puasanya kurang dari dua puluh Sembilan hari maka hendaklah ia menyempurnakan sampai dua puluh sembilan hari setelah hari raya,  karena bulan Hijriah tidak kurang dari dua puluh Sembilan hari. (fatwa syekh Ibnu Bazz).

~ Diterjemakan secara bebas dari kutaib: (تعلم فقه الصيام ( karya; Syaikh Maajid bin Su’ud dan artikel (مسالة في الصيام 70) karya; Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Munajjid ~

------

Artikel: www.elmajalis.com

Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman