Seputar Pembatal Puasa. - El Majalis

Breaking

Koleksi Sifa

Juni 28, 2013

Seputar Pembatal Puasa.

Sebelum kita membahas tentang hal-hal yang membatalkan puasa, hendaknya kita mengetahui tiga poin berikut ini.
Bahwanya semua pembatal puasa yang akan disebutkan (selain haid dan nifas), tidak dianggap sebagai pembatal kecuali jika terpenuhi tiga syarat berikut:
1.     Mengetahui bahwa hal tersebut bisa membatalkan puasa. Apabila seseorang muslim tidak tahu, maka puasanya tidak batal atau dihukumi sah puasanya.
2.     Dalam keadaan ingat (tidak lupa) bahwa dia sedang berpuasa. Apabila ia makan atau minum tapi dia lupa ternyata dia sedang puasa, maka puasanya tetap sah. Berdasarkan sabda Nabi Text Box: n :“Barangsiapa yang lupa bahwa dia sedang berpuasa kemudian dia makan atau minum, maka hendaklah dia menyempurnakan puasanya… (HR. Bukhari dan Muslim).
Tapi apabila ia teringat, maka wajib baginya mengeluarkan apa yang masih ada di mulutnya dan bagi yang melihatnya wajib mengingatkannya.
3.     Tidak terpaksa. Jika seorang istri dipaksa oleh suaminya untuk berhubungan badan (di siang hari bulan Romadhon) sedang sang isteri tidak kuasa menolaknya, maka puasa sang isteri tetap sah. Begitu juga apabila seseorang menelan air saat berkumur-kumur tanpa disengaja, maka puasanya tetap dihukumi sah.
 Pembatal-Pembatal Puasa
Adapaun yang termasuk dalam hal-hal yang membatalkan puasa adalah sebagai berikut;
1.       Makan dan minum dengan sengaja.
2.       Apa saja yang mengganti kedudukan makanan atau minuman. Seperti memakai tetesan hidung yang sampai ke tenggorokan, melakukan suntikan yang mengandung gizi (infuse) dan lain-lain yang semakna dengan hal tersebut.
3.       Berhubungan badan di siang hari Romadhon.
Dan bagi siapa yang bersetubuh di siang hari, wajib baginya membayar kafarat (denda). Adapun kafaratnya secara berurutan sebagai berikut:
Pertama; Memerdekakan budak yang mukmin. Jika tidak mampu maka wajib baginya yang.
Kedua; Puasa dua bulan berturut-turut dan tidak boleh diselangi berbuka kecuali ada uzur syar’i seperti haid, nifas, sakit, bepergian jauh, hari raya, hari tasyriq (11,12,13 dari bulan Dzulhijjah). Jikalau dia berbuka tanpa uzur syar’i, maka diharuskan baginya mengulangi puasanya dari awal.
Ketiga; Apabila dia tidak sanggup berpuasa, maka wajib baginya memberi makan enam puluh orang miskin.
4.       Mengeluarkan mani dengan sengaja baik dengan onani (mengeluarkan mani dengan tangan) atau dengan bercumbu, karena menyelisihi hakikat orang yang berpuasa. Nabi Text Box: n bersabda:“....Dia meninggalkan syahwat, makan dan minumya karena-Ku”.(HR. Bukhari)
5.       Muntah dengan sengaja baik dengan perantara tangan, mencium atau melihat sesuatu yang bisa menyebabkan muntah. Adapun muntah tanpa disengaja, maka hal tersebut tidak membatalkan puasa berdasarkan sabda Nabi Text Box: n : ”Barang siapa muntah tanpa disengaja, maka tidak ada qodho’baginya dan barang siapa yang menyengaja (muntah), maka hendaklah mengqodhonya”. (HR. Tirmidzi).
6.       Keluar darah haid atau nifas (darah yang keluar selepas melahirkan). Setiap wanita yang mendapati darah haid atau nifas di siang hari ataupun suci dari haid setelah terbit fajar maka puasanya batal, berdasarkan Sabda Nabi Text Box: n :“Bukankah (perempuan) apabila sedang haid tidak sholat dan tidak puasa? (yaitu tidak sah sholat dan puasa mereka)”.(HR. Bukhari).
Wallahu A’lam
~ Diterjemakan secara bebas dari kutaib: (تعلم فقه الصيام ( karya; Syaikh Maajid bin Su’ud dan artikel (مسالة في الصيام 70) karya; Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Munajjid ~
 

Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman