Seputar Puasa Wanita Haid. - El Majalis

Breaking

Koleksi Sifa

Juni 28, 2013

Seputar Puasa Wanita Haid.

          Tidak jarang beragam permasalahan muncul dari para wanita yang sedang mengalami haid terkait dengan pelaksanaan puasa romadhan. Sehingga membutuhkan jawaban terhadapa permasalahan tersebut. Dan semoga penjelasan singkat berikut ini bias menjadi solusinya.

1.     Diharamkan bagi wanita yang sedang haid untuk berpuasa. Jika ia tetap melakukannya, maka puasanya tetap tidak sah bahkan ia berdosa.
2.     Apabila seorang wanita melihat darah haid sekalipun menjelang terbenamnya matahari, maka batallah puasanya dan wajib baginya mengqodho’ puasa hari tersebut, jika ia sedang puasa wajib (puasa romadhan, nazar atau kaffarah). Dan apabila ia suci dari haid menjelang terbitnya fajar, maka wajib baginya berpuasa.

3.     Boleh hukumnya bagi yang telah suci dari haid untuk menunda atau mengakhirkan mandinya sampai setelah terbit fajar. Sebagaimana halnya orang yang berjunub, berdasarkan perkataan ‘Aisyah : “Nabi pernah kesiangan sedang dia dalam keadaan junub karena jima’ bukan karena mimpi, kemudian beliau berpuasa”.(HR. Bukhari dan Muslim).

4.     Jika seorang wanita merasakan akan keluar darah haid, akan tetapi darah tersebut belum terlihat kecuali setelah terbenam matahari, maka puasanya tetap sah.

5.     Wanita yang tahu bahwa kebiasaannya (masa haid) akan datang di esok hari, maka hendaklah baginya meneruskan niatnya untuk berpuasa dan tidak boleh berbuka sampai dia melihat darah haid.

6.     Yang terbaik bagi wanita adalah tidak mengkonsumsi sesuatu (tentunya yang tidak membahayakan) yang dapat menghalangi datangnya haid sebagaimana halnya isteri-isteri Nabi  yang mulia dan para wanita salafus sholih. Namun apabila ia mengkonsumsikannya lantas dapat menghalangi keluarnya darah haid, maka tidak apa-apa dan sah puasanya.

7.     Apabila ibu hamil keguguran sedang janinnya sudah mulai berbentuk manusia, maka hal tersebut dihukumi sebagai darah nifas (darah yang keluar disebabkan melahirkan), maka secara otomatis tidak boleh berpuasa. Tapi jika tidak (seperti yang telah disebutkan) berarti itu darah istihadhoh (darah penyakit) dan wajib baginya berpuasa jika mampu.

8.     Hukum wanita yang telah melahirkan sama hukumnya dengan wanita yang haid. Apabila si ibu bayi suci sebelum empat puluh hari, maka wajib baginya berpuasa dan mandi untuk sholat. Tapi jika darah keluar lagi setelah itu sementara masih kurang dari empat puluh hari, maka darah tersebut masih dianggap sebagai darah nifas, dan ia harus menghentikan puasanya. Namun jika darah tersebut keluar pada waktu sudah melebihi empat puluh hari, maka hendaklah ia niat untuk berpuasa. Adapun darah yang masih keluar (setelah 40 hari) dianggap darah istihadhoh, kecuali jika bertepatan dengan hari datang haidnya, maka darah tersebut dianggab darah haid.

Wallahu A’lam

Sumber: Kutaib: (تعلم فقه الصيام ( karya; Syaikh Maajid bin Su’ud dan artikel (مسالة في الصيام 70) karya; Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Munajjid ~



Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman