Fiqih Ringkas Seputar I’tikaf di Bulan Romadhan - El Majalis

Breaking

Koleksi Sifa

Juli 27, 2013

Fiqih Ringkas Seputar I’tikaf di Bulan Romadhan

Salah satu amal sholeh yang dicontohkan oleh Rasulullah shollallahu alaihi wasallam  dan dilanjutkan oleh para istri serta para shahabat beliau saw pada sepuluh malam terakhir adalah beri’tikaf di dalam mesjid.
Definisi I’tikaf
I’tikaf adalah menetap atas sesuatu, dan orang yang menetap di masjid dan beribadah di dalamnya disebut mu’takif (orang yang sedang beri’tikaf).
Jadi, I’tikaf menurut makna syar’i adalah menetap di dalam mesjid dengan niat bertaqaarub (mendekatkan diri) kepada Allah swt dengan beragam ketaatan seperti membaca al-Qur’an, sholat, dzikir dan lain-lain.
Hukum I’tikaf
Hukum asal i’tikaf adalah sunnah atau dianjurkan. Dan i’tikaf pada bulan romadhan lebih utama berdasarkan hadits Abu Hurairah  -shollallahu alaihi wasallam- dimana beliau berkata: “Dulu Rasulullah -shollallahu alaihi wasallam- beri’tikaf pada setiap romadhan sebanyak 10 hari, namun ketika datang tahun dimana pada tahun tersebut beliau wafat, beliau beri’tikaf sebanyak 20 hari.” (HR. Bukhari)
Dan yang yang terbaik lagi adalah pada sepuluh terakhir dari bulan romadhan, berdasarkan riwayat dari A’isyah rdh. Bahwasanya Nabi -shollallahu alaihi wasallam- dulu beri’tikaf pada sepuluh terakhir romadhan sampai beliau wafat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kapan i’tikaf menjadi wajib hukumnya?
Hukum i’tikaf akan merubah menjadi wajib ketika seseorang bernazar untuk melakukannya. Apabila seseorang bernazar untuk beri’tikaf selama satu hari atau lebih, maka wajib baginya untuk melaksanakan nazarnya. Berdasarkan hadits Umar bin Khoththob rd yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa tatkala Umar rd bertanya kepada Nabi -shollallahu alaihi wasallam-  tentang nazarnya pada masa jahiliyah untuk beri’tikaf, maka Nabi -shollallahu alaihi wasallam-  memerintahkannya untuk menunaikan nazar tersebut.
Syarat I’tikaf
1. Islam, karena i’tikaf adalah ibadah dan ibadah tidak sah dari orang kafir.
2. Tamyiz (mampu membedakan antara yang baik dan buruk)
3. Suci dari hadas besar, dan jika ternyata haid atau nifas datang pada saat i’tikaf, maka wajib baginya untuk keluar dari tempat i’tikafnya.
4. Dilakukan di dalam mesjid, berdasarkan firman Allah swt dalam surat al-Baqaroh:187.
Apakah disyaratkan puasa saat i’tikaf?
Pendapat yang rajih dan kuat dalam masalah ini adalah tidak disyaratkan berpuasa pada saat i’tikaf, jika i’tikaf dilakukan di luar bulan romadhan, akan tetapi hanya bersifat  anjuran saja.
Rukun I’tikaf
1. Niat, karena setiap ibadah harus didasari niat sebagaimana disebutkan dalam hadits Umar bin Khoththob.
2. Menetap di dalam mesjid
Batas waktu minimal i’tikaf
Mayoritas ulama, diantaranya Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i berpendapat bahwa waktu i’tikaf tidak ada batas minimalnya. Imam Malik berkata, minimalnya satu hari satu malam. Dalam riwayat lain dari beliau, tiga hari dan sepuluh hari.
Saya katakan (Abu Malik Kamal): “Yang lebih kuat, waktu minimalnya adalah satu malam berdasarkan hadits Umar rd tatkala Nabi rd memerintahkannya untuk menunaikan nazarnya, maka beliau beri’tikaf satu malam.”
Kapan waktu masuk dan keluar ?
Mayoritas ulama mengatakan bahwa orang yang ingin beri’tikaf di sepuluh malam terkhir hendaknya masuk ke tempat i’tikafnya (mesjid) sebelum terbenam matahari di hari ke 20 romadhan.
Adapun waktu keluarnya adalah setelah terbenam matahari hari terakhir bulan romadhan.
Pembatal-pembatal I’tikaf
1. Keluar dari mesjid tanpa uzur syar’i dan keperluan yang mendesak seperti mengambil makan atau qadho hajat jika memang harus keluar.
2. Berhubungan suami istri (jimak)
3. Menunggu masa iddah bagi wanita yang ditinggal mati oleh suaminya.
4. Murtad (keluar dari islam).
Hal-hal yang dibolehkan saat I’tikaf
1. Keluar mesjid untuk suatu keperluan yang mendesak.
2. Menyibukkan diri dengan hal-hal yang mubah.
3. Mandi dan wudhu’ di mesjid.
4. Membuat kemah di pojok mesjid untuk menyendiri.
5. Meletakkan kasur atau tempat tidur di dalam mesjid.
6. Khitbah dan melakukan akad nikah.
7. Dibolehkan bagi wanita istihadhoh untuk i’tikaf tapi hendaknya. ia memakai pembalut agar tidak mengotori mesjid.
Apakah wanita boleh beri’tikaf?
Wanita sebagaimana halnya laki-laki juga dianjurkan untuk beri’tikaf sebagaimana yang telah dilakukan oleh para istri Nabi-shollallahu alaihi wasallam-. Akan tetapi harus memenuhi dua syarat;
- Mendapat izin dari suaminya, Karena seorang wanita tidak boleh keluar rumah kecuali dengan izin suaminya. Hal ini (minta izin ke suami) telah dicontohkan oleh Aisyah, Zainab dan Hafshoh ketika mereka ingin beri’tikaf, mereka meminta izin dulu kepada Nabi -shollallahu alaihi wasallam-.
- Tidak menimbulkan fitnah, jika menimbulkan fitnah baik bagi dirinya atau kaum laki-laki maka dilarang baginya untuk beri’tikaf.
Adab ketika i’tikaf
Disunnahkan bagi orang yang i’tikaf untuk menyibukkan dirinya dengan beragam ketatan kepada Allah swt seperti sholat, membaca al-Qur’an, dzikir kepada  Allah, beristighfar, berdoa, bersaholawat kepada nabi -shollallahu alaihi wasallam-  dan bentuk-bentuk ibadah lainnya.
Dan dimakruhkan (dibenci) untuk menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat baik dari perkataan maupun perbuatan.
Demikian ringkasan tentang hukum berkaitan dengan masalah i’tikaf, semoga memberi manfaat bagi pembaca dan menambah wawasan keislamannya.
Wallahu A’lam
Sumber: Kitab “Shahih Fiqih Sunnah” karya Abu Malik Kamal dan buku saku “Ta’alum Fiqhis Shiyam” karya Majid bin Sa’ud.
 

Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman