Kisah: Keajaiban Sikap Amanah dan Kejujuran - El Majalis

Breaking

Koleksi Sifa

Juli 02, 2013

Kisah: Keajaiban Sikap Amanah dan Kejujuran

Amanah dan kejujuran adalah dua sikap mulia yang mengantarkan pemiliknya kepada kebaikan dan keberuntungan hakiki baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sikap inilah yang membuat para kafir Quraisy Mekkah percaya dan tunduk terhadap keputusan Rasulullah SAW sebelum Islam bersinar di negri Mekkah saat itu. Akan tetapi, di zaman modern ini, dekadensi moral dan akhlak sudah begitu dahsyat dan memprihatinkan. Sehingga sikap mulia tersebut mulai luntur dan bahkan telah sirna dari dari diri-diri sebagian kaum muslimin kecuali mereka yang dirahmati Allah SWT.

Disamping itu pula, kita hidup di satu zaman yang kosong dari qudwah (panutan), jauh dari zaman nubuwah. Oleh sebab itu, kita perlu membaca dan memperhatikan perjalanan dan kisah-kisah orang terdahulu yang telah memenuhi lembaran hidup mereka dengan ketaatan dan kemuliaan. Mudah-mudahan dengan membaca kisah mereka, kita mengambil faidah dan manfaat untuk kita realisasikan dalam kehidupan kita.

Pada edisi kali ini, kita akan mengangkat sebuah kisah tentang seorang laki-laki dari Bani Israil. Bagaimana kisahnya.? mari kita simak lanjutan kisah ini dari sosok manusia termulia, teladan kita Rasulullah SAW. Abu Hurairah RD berkata bahwasanya Rasulullah SAW menceritakan tentang seorang laki-laki dari Bani Israil yang meminta pinjaman (berhutang) kepada seseorang sebesar 1000 dinar (mata uang saat itu).

Lalu orang yang ingin memberi pinjaman itu berkata, “Datangkanlah kepadaku beberapa orang saksi agar mereka menyaksikan hutangku ini.” Ia menjawab, “Cukuplah Allah sebagai saksi bagiku!” Orang itu berkata lagi, “Datangkan kepadaku seorang yang menjamin hutangmu!” Ia menjawab, “Cukuplah Allah yang menjamin hutangku!” Lantas orang yang menghutangipun berkata, “Engkau benar.”

Maka uang 1000 dinar itu diberikan kepadanya agar dibayar pada waktu yang telah ditentukan. Setelah sekian lama, orang yang berhutang itupun berlayar untuk suatu keperluannya. Lalu ia mencari kapal yang bisa mengantarkannya untuk memayar hutang karena sudah jatuh tempo, akan tetapi ia tidak mendapatkan kapal tersebut.

Maka iapun mengambil sebilah kayu yang kemudian dilubanginya lalu dimasukkanlah uang 1000 dinar ke dalamnya dengan disertai sepucuk surat buat yang menghutanginya. Lalu ia meratakan kembali kayu tersebut dan memperbaiki letaknya. Selanjutnya ia pergi ke laut seraya berkata, “Ya Allah, sungguh Engkau telah mengetahui bahwa aku meminjam (berhutang) uang kepada si fulan sebanyak 1000 dinar. Ia pun meminta kepadaku seorang penjamin, maka aku katakan waktu itu, ‘Cukuplah Allah sebagai penjamin.’ Dan ia memintaku seorang saksi, maka aku katakan, ‘Cukuplah Allah sebagai saksi.’

Kemudian ia pun rela dan menerima perkataanku itu dan dia sudi memberikan pinjaman (1000 dinar) kepadaku. Sungguh aku telah berusaha keras mencari kapal untuk mengantarkan uang yang telah aku pinjam karena telah tiba waktu pengembaliannya, tetapi aku tidak mendaptkan kapal itu. Karena itu aku titipkan uang itu kepada-Mu.”

Lalu ia melemparnya (kayu yang berisi uang dan sepucuk surat) ke laut lalu ia pulang.

Apa yang terjadi setelah itu? apakah uang tersebut akan hilang, diambil orang, tenggelam atau…? mari kita simak lanjutan kisahnya.

Ternyata orang yang menghutanginya itu keluar untuk menunggu kapal yang datang ke negrinya sambil melihat-lihat barangkali ada kapal yang membawa titipan uang untuknya. Tetapi tiba-tiba ia menemukan sepotong kayu. Lantas ia mengambilnya untuk keperluan kayu bakar istrinya. Namun ketika ia membelah kayu tersebut ia mendapatkan uang berikut sepucuk surat.

Selang beberapa waktu, datanglah orang yang berhutang sambil membawa uang 1000 dinar seraya berkata, “Demi Allah, aku terus berusaha untuk mendapatkan kapal agar bisa sampai kepadamu untuk mengembalikan uangmu, Tetapi aku sama sekali tidak mendapatkan kapal sebelumnya kecuali yang aku tumpangi saat ini.”

Orang yang menghutangi itu berkata, “Bukankah engkau telah mengirimkan uang itu untukku melalui sesuatu? “ Ia menjawab, “Bukankah aku telah memberitahukan kepadamu bahwa aku tidak mendapatkan kapal sebelum yang aku tumpangi sekarang ini”.

Orang yang menghutanginya berkata, “Sesungguhnya Allah telah menunaikan apa yang engkau kirimkan kepadaku melalui kayu. Karena itu bawalah uang 1000 dinarmu kembali.” (HR. Bukhari).

Semoga kisah ini bisa menjadi bahan renungan dan motivasi bagi kita untuk senantiasa menghiasi diri kita dengan sikap amanah dan kejujuran sehingga bisa meraih kebaikan yang berlimpah. Wallahu A`lam


Sumber: 61 Kisah pengantar tudur, diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah SAW dan para sahabatnya, karya: Muhammad bin Hamid Abdul Wahab.

Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman