Meneropong Malam Lailatul Qadar - El Majalis

Breaking

Koleksi Sifa

Juli 27, 2013

Meneropong Malam Lailatul Qadar

Bulan Romadhan adalah bulan yang terkandung banyak keberkahan dan keutamaan yang tidak dimiliki oleh bulan lainnya. Diantara wujud kemuliaan dan keberkahan itu adalah adanya malam lailatul qadar di dalamnya.

Kenapa disebut malam lailatul qadar.?

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin v menerangkan bahwa ada tiga kemungkinan kenapa malam tersebut desebut dengan malam lailatul qadar yaitu;

1.     Al-qadr bermakna asy-Syarf yang  memiliki arti mulia.

2.     Disebutkan lailatul qadar karena pada malam tersebut dicatat semua takdir yang akan terjadi selama setahun.

3.     Karena pahala ibadah pada malam tersebut sangat agung.

Kapan terjadi malam lailatul Qadar?

Tidak diragukan lagi bahwa lailatul qadar terjadi pada bulan Romadhan, berdasarkan firman Allah l: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada (malam) lailatul qadar.(QS. Al-Qadr: 1) dan firman Allah l: “185. “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran.” (QS. Al-Baqorah: 185)

Adapun berkenaan dengan penetapan malam terjadinya lailatul qadar, maka para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.

Mayoritas para ulama mengatakan bahwa malam lailtul qadar terjadi pada malam sepuluh terakhir dari bulan Romadhan.

Berdasarkan sabda Nabi l :

فَابْتَغُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ

Artinya: “Maka carilah (lailtul qadar) pada sepuluh terakhir.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Mereka menambahkan bahwa lailatul qadar terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh terakhir dari Rmadhan. Berdasarkan sabda Nabi l :

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Artinya: “Carilah lailatul qadar pada malam ganjil dari sepuluh terakhir di bulan romadhan.” (HR. Al-Bukhari)

Kemudian mayoritas dari para ulama kembali mengatakan bahwa lailatul qadar terjadi pada malam 27 romadhan.

Berdasarkan sabda Nabi l :

فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

Artinya: “Maka barangsiapa ingin mencarinya (lailtul qadar) maka carilah di malam tujuh terakhir (malam 27).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ini adalah pendapat sekelompok dari para sahabat Nabi l, bahkan Ubay bin Ka’ab a sampai bersumpah bahwa lailatul qadar terjadi pada malam 27 romadhaon sebagaimana disebutkan dalam shahih muslim.

Aku katakan (Abu Malik Kamal): “Yang tampak bagi saya, bahwa lailatul qadar terjadi pada malam sepuluh terakhir dan di malam-malam ganjil lebih diharapkan (terjadinya). Lailatul qadar berpindah-pindah (pada setiap tahun)  dalam arti tidah selalu pada malam 27 romadhan. Adapun berkenaan dengan sumpahnya Ubay a bahwa lailatul qadar terjadi pada malam ke 27, ini terjadi pada tahun (itu) dan tidak berarti hal seperti itu terjadi pada setiap tahun. Hal ini dibuktilan oleh satu riwayat bahwasanya Nabi l pernah mendapati lailatul qadar pada malam 21 romadhan sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri a...”

Dan inilah (pendapat) yang tepat berdasarkan penggabungan antara riwayat-riwayat tentang masalah ini, wallahu A’lam.

Imam An-Nawawi v dalam kitabnya al-Majmu’ bertutur: ”Inilah (pendapat) yang kuat dan terpilih, disebabakan adanya kontradiksi antara hadits-hadits yang shahih dalam masalah ini dan tidak ada jalan untuk mengkompromikan hadits-hdits tersebut kecuali dengan mengatakan bahwa lailatul qadar itu berpindah-pindah (tidak selalu di malam 27).”

Hikmah dirahasiakan malam lailatul qadar

Para ulama menyebutkan bahwa diantara hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar adalah agar manusia bersemangat dan memperbanyak amal sholeh demi mendapatkan malam tersebut sehingga seorang hamba semakin bertambah dekat dengan Robb-Nya. Disamping itu  pula agar nampak siapa yang antusias dan yang malas dalam mendapatinya.

Keutamaan malam lailatul qadar

1.     Malam diturunkannya al-Qur’an

Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr: 1)

2.     Ia adalah malam yang penuh berkah

Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi.” (QS. ad-Dukhan: 3)

 

3.     Pahala ibadah dimalam tersebut lebih baik dari seribu bulan.

Allah l berfirman:

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

4.     Malaikat turun pada malam tersebut dengan membawa keberkahan, ampunan dan kebaikan.

Allah l berfirman:

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan       izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” (QS. Al-Qadar: 4)

5.     Malam yang penuh keselamatan

Allah l berfirman:

Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. AL-Qadr: 5)

Doa pada malam lailatul qadar

Dianjurkan pada malam tersebut untuk memperbanyak doa, lebih-lebih doa yang terdapat dalam hadits ‘Aisyah Rdh dimana beliau berkata: “Wahai Rasulullah, jika seandainya aku mengetahui malam lailatul qadar, apa yang hendaknya aku ucapkan? Beliau l bersabda: Katakanlah, Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pemaaf dan mencintainya maka maafkanlah aku.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Tanda-tanda malam lailatul qadar              

Malam lailatul qadar mempunyai tanda-tanda yang muncul pada malam tersebut atau sesudahnya.

Tanda-tanda yang muncul di malamnya:

1.     Ia terjadi pada malam sepuluh terakhir.

2.     Udara dan angin terasa tenang, sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas.

3.     Ketenangan yang disebabkan oleh turunnya para malaikat, sehingga ketenangan itu dirasakan oleh seorang hamba serta ibadah terasa lezat yang tidak dirasakan pada malam lainnya.

4.     Dan terkadang seorang hamba diperlihatkan dalam mimpinya sebagaimana yang terjadi pada sebagian sahabat.

Tanda yang muncul setelahnya:

1.     Matahari pada pagi harinya tidak kuat cahayanya.

2.     Matahari ketika terbit di pagi harinya tidak terlalu memerah.

Khurafat seputar tanda-tanda lailatul qadar yang tersebar di tengah masyarakat yang  jelas-jelas kebatilannya antara lain:

1.   Air laut menjadi tawar

2.   Pada malam itu anjing tidak menggonggong

3.   Keledai tidak meringkik

4.   Dahan pohon-pohon merunduk ke bumi

5.   Bangunan-bangunan tidur

Wallahu A’lam

Sumber: Buku “Shahih Fiqih Sunnah” Karya Abu Malik Kamal dan Buku Saku “Ta’allum fiqhis Shiyam” Karya Majid bin Sa’ud.

Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman