Permasalahan Seputar Puasa (bagian 2) - El Majalis

Breaking

Koleksi Sifa

Mei 29, 2018

Permasalahan Seputar Puasa (bagian 2)

Di antara permasalahan yang sering muncul pada bulan romadhan ketika seorang muslim melaksanakan ibadah puasa adalah;

1.Mencium atau menyentuh tanpa mengeluarkan air mani tidak membatalkan puasa, tetapi kalau dia khawatir terhadap dirinya akan keluar mani atau mendorong dia untuk berjima’ maka dilarang baginya melakukan hal tersebut.

2. Adapun keluar mani disebabakan ihtilam (mimpi basah) tidak membatalkan puasa, karena hal tersebut bukan atas pilihan dan keinginan darinya.

3. Barangsiapa mengeluarkan mani di siang hari dengan sesuatu yang mungkin dihindari seperti menyentuh, mencium, melihat berulang kali, maka wajib baginya bertaubat serta menyempurnakan puasanya kemudian diharuskan baginya mengqodho’ puasa hari tersebut. Sementara jika dia sedang melakukan onani kemudian berhenti sebelum keluar mani, maka hendaklah baginya bertaubat tanpa harus mengganti puasanya, karena tidak sampai keluar mani.

4. Jika seseorang keluar madzi (air yang keluar saat bercumbu, berciuman, berfikir atau menghayal tentang jima’), maka menurut pendapat yang paling benar adalah tidak membatalkan puasa.

Ketiga: Lain-Lain

1. Barangsiapa berbuka puasa sedang ia dalam kondisi lupa, maka sah puasanya dan tak ada qodho’ baginya.  Seperti orang yang mengira bahwa fajar belum terbit atau matahari sudah terbenam, berdasarkan sabda Nabi
n
 :“Barangsiapa makan atau minum sedang dia lupa (sedang puasa) maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena Allah-lah yang memberinya makan dan minum”.(HR. Bukhari).

Dan berdasarkan hadist Asma’ binti Abi Bakar  ia bertutur: “Kami berbuka di zaman Nabi saw pada hari yang mendung (mereka mengira matahari sudah terbenam) kemudian matahari muncul lagi”.(HR. Bukhari). Tidak di sebutkan dalam riwayat yang shahih bahwa Nabi saw memerintahkan mereka untuk mengqodho’ puasa hari tersebut. Akan tetapi jika didapati makanan atau minuman di mulut, maka harus segera memuntahkannya saat itu juga.

2.  Apabila menelan sesuatu yang terselip di gigi tanpa sengaja, atau sedikit dari sisa makanan yang susah untuk dikeluarkan dari mulut karena menyelip di gigi maka itu tidak membatalkan puasa. Tapi jika sesuatu itu banyak dan mungkin untuk dikeluarkan, maka puasanya  sah. Namun apabila ia menelannya, maka puasanya menjadi batal.

3.Apabila gusinya berdarah atau luka, maka tidak boleh baginya menelan darah tersebut dengan sengaja, tapi jika tertelan tanpa disengaja maka itu tidak mengapa.

4.   Ingus atau sesuatu yang berasal dari perut disebabkan batuk atau pilek, jika menelannya sebelum sampai ke mulut, maka itu tidak apa-apa dan puasanya tetap sah. Namun jika dia menelannya setelah sampai di mulut sedang dia tahu bahwa hal itu membatalkan puasa, dan dalam keadaan ingat, serta tidak terpaksa, maka puasanya menjadi batal. Jika tidak demikian, maka puasanya tetap sah.

5.  Adapun memakai pasta gigi di siang hari tidaklah membatalkan puasa. Namun demikian menggunakannya di malam hari lebih baik dan utama.

6. Barang siapa yang tidak tahu tentang wajibnya puasa Romadhon atau tentang haramnya makan atau bersetubuh di bulan Romadhon. Menurut pendapat mayoritas para ulama, orang tersebut dimaafkan tapi dengan syarat; apabila dia baru masuk Islam atau seorang muslim yang tinggal di daerah peperangan, tinggal di antara orang kafir atau tinggal di daerah pedalaman yang jauh dari sumber ilmu dan tak terjangkau. Akan tetapi jika dia tinggal diantara kaum muslimin serta memungkinkan untuk bertanya kepada para ulama maka dia tidak dimaafkan dan dia berdosa karena dia tidak mau belajar dan bertanya.

           Wallahu A’lam

Sumber: Kutaib: (تعلم فقه الصيام ( karya; Syaikh Maajid bin Su’ud dan artikel (مسالة في الصيام 70) karya; Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Munajjid ~

Artikel: www.elmajalis.com






Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman