Fiqih Ringkas Seputar Zakat Fitrah - El Majalis

Breaking

Koleksi Sifa

Agustus 03, 2013

Fiqih Ringkas Seputar Zakat Fitrah

Zakat fitrah adalah sedekah yang diwajibkan ketika bulan romadhan berakhir. Penyandaran fitrah kepada zakat disebabkan kewajibannya ketika waktu berpuasa berakhir.
 
Hukum zakat fitrah
Zakat fitrah hukumnya wajib atas setiap muslim, baik ia seorang hamba maupun merdeka, laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun dewasa.
Berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar rdh: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mewajibkan zakat fitrah satu sha’ dari kurma, atau sha’ dari gandum atas hamba sahaya, orang merdeka, laki-laki, wanita, anak-anak dan orang dewasa dari kalangan kaum muslimin, dan beliau memerintahkan agar dikeluarkan sebelum manusia keluar menuju sholat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ibnul Mundzir rh berkata: “Telah bersepakat semua ulama yang kami hafal dari mereka bahwa zakat fitrah wajib hukumnya.”
Hikmah disyaria’tkannya
 
Setiap syari’at yang diwajibkan oleh Allah swt kepada hamba-Nya pasti mengandung hikmah dan manfaat di dalamnya. Adapun hikmah dari pensyariatan zakat fitrah adalah sebagai berikut:
1. Sarana penyucian diri bagi orang yang telah berpuasa dari kelalaian dan kekejian.
2. Bentuk kasih sayang terhadap orang miskin serta memberikan kegembiraan kepada mereka dengan cara memberi zakat fitrah.
Dari Ibnu ‘Abbas rdh berkata: “Rasulullah  shallallahu alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyucian jiwa orang yang berpuasa dari kelalaian dan kekejian dan  sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Baragnsiapa mengeluarkannya sebelum sholat (ied) maka itu adalah sedekah yang diterima (sebagai zakat fitrah) dan barangsiapa mengeluarkannya setelah sholat (ied) maka ia termasuk sedekah sebagaimana sedekah lainnya (bukan zakat fitrah).” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lain)
Siapa yang wajib mengeluarkannya
Zakat fitrah diwajibkan bagi mereka yang terpenuhi syarat-syarat berikut ini yaitu:
a.         Islam, menurut mayaoritas ulama, karena zakat fitrah adalah ibadah sedang orang kafir bukan ahlinya.
b.      Mampu untuk mengeluarkannya.
Adapun batasan seseorang dikatakan mampu adalah jika dia memiliki kelebihan makanan pokoknya dan juga orang yang dibawah tanggungannya selama malam ied dan harinya. Dan ini menurut pendapat mayoritas para ulama.
Jadi, Seorang muslim harus mengeluarkan zakat fitrahnya dan zakat orang yang dibawah tanggungannya seperti istri, anak dan juga pembantunya jika mereka adalah muslim.
Ibnu ‘Umar rdh berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk mengeluarkan zakat fitrahnya si anak, orang dewasa, merdeka, hamba sahaya....” (HR. Ad-Daruqudni)
Kadar wajib yang harus dikeluarkan
Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan kadar yang wajib dikeluarkan pada zakat fitrah. Hanya saja mayoritas ulama (Imam Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad) berpendapat bahwa kadar yang harus dikeluarkan adalah satu sha’ makanan pokok dari apapun jenisnya.
Hal ini didasari pada sebuah riwayat dari Ibnu ‘Umar rdh, dimana beliau berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mewajibkan zakat fitrah satu sha’ dari kurma, atau satu sha’ dari gandum, kemudian manusia mengeluarkan setengah sha’ dari bur (jenis gandum yang bagus). (HR. Bukhari dan Muslim).
Juga berdasarkan hadits Abu Sa’id al-Khudri rd, ”Dulu kami mengeluarkan zakat fitrah pada zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam satu sha’ makanan atau satu sha’ gandum atau satu sha’ kurma......” (HR. Bukhari dan Muslim)
Faidah: Satu sha’ kira-kira setara dengan 2,5 kg beras
Apakah orang hamil wajib mengeluarkan zakat untuk janinnya ?
Tidak wajib mengeluarkan zakat janin yang masih dalam perut, tapi jika hal itu dilakukan maka tidak mengapa sebagaimana yang telah dilakukan oleh Utsman bin ‘Affan rd.
Jenis makanan yang dikeluarkan
Jenis makanan yang dikeluarkan sebagai zakat fitrah adalah sesuatu yang menjadi makanan pokok di daerah masing-masing dan tidak terbatas pada jenis makanan pokok yang disebutkan dalam hadits saja seperti gandum, kurma dan kismis.
Ini adalah pendapat para ulama di madzhab Syafi’i, Maliki dan juga pendapat ini yang dipilih oleh Syaikh Islam Ibnu Taimiyah. Dan inilah pendapat yang paling kuat.
Adapun perintah Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk mengeluarkan zakat fitrah satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum, karena itulah makanan pokok penduduk Madinah ketika itu.
Waktu mengeluarkan zakat fitrah
Zakat fitrah wajib dikeluarkan sebelum sholat ied dilaksanakan dan haram hukumnya menunda atau mengakhirkan pengeluarannya sampai setelah sholat ied tanpa ada alasan syar’i.
Dari Ibnu ‘Umar rdh berkata: “Rasulullah shallalahu alaihi wasallam memerintahkan agar zakat fitrah dikeluarkan sebelum manusia keluar menuju sholat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Ibnu ‘Abbas rdh berkata: “Rasulullah  shallallahu alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyucian jiwa orang yang berpuasa dari kelalaian dan kekejian dan makanan bagi orang-orang miskin. Baransiapa mengeluarkannya sebelum sholat (ied) maka itu adalah sedekah yang diterima (sebagai zakat fitrah) dan barangsiapa mengeluarkannya setelah sholat (ied) maka ia termasuk sedekah sebagaimana sedekah lainnya (bukan zakat fitrah).” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lain)
Awal masuk waktu wajib zakat fitrah
Waktu wajib mengeluarkan zakat fitrah bagi yang memenuhi syarat adalah ketika terbenamnya matahari pada hari akhir romadhan. Dan barangsiapa meninggal dunia sebelum terbenam matahari atau lahir setelah terbenam matahari meskipun beberapa menit, maka tidak wajib baginya mengeluarkan zakat fitrah. Dan wajib bagi yang meninggal setelah terbenam matahari dan dilahirkan sebelum terbenam.
Kapan waktu utama untuk mengeluarkan zakat fitrah ?
Waktu mengeluarkan zakat fitrah ada dua waktu yaitu;
Pertama: waktu fadhilah (utama) yaitu mengeluarkannya pada waktu pagi hari raya sebelum sholat ied. Berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan agar zakat fitrah dikeluarkan sebelum manusia keluar menuju sholat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu disunnahkan mengakhirkan zakat fitrah sampai waktu tersebut.
Kedua: Waktu jawaz (dibolehkan), maksudnya dibolehkan mengeluarkan zakat fitrah satu atau dua hari sebelum hari raya. Berdasarkan riwayat dari Nafi’, bahwa Ibnu ‘Umar mengeluarkan zakat fitrah kepada orang yang  menerimanya, dan mereka dulu mengeluarkannya satu hari atau dua hari sebelum hari raya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Apakah zakat fitrah gugur dengan keluar waktunya?
Jika seorang muslim belum mengeluarkan zakat fitrah sampai keluar waktunya, apakah zakat fitrahnya gugur atau tidak?
Para ulama telah bersepakat bahwa zakat fitrah tidak gugur dengan keluarnya waktu (setelah sholat ied). Karena zakat fitrah kewajiban atas pundaknya untuk orang yang berhak menerimanya, dan zakat tersebut adalah utang yang tidak gugur kecuali dengan menunaikannya, karena zakat tersebut hak bagi hamba. Adapun mengakhirkan hak Allah tidak bisa terganti kecuali dengan istighfar dan penyesalan.
Bolehkah membayarnya dalam bentuk uang..?
Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Akan tetapi yang rajih atau kuat dan juga pendapat mayoritas para ulama adalah tidak boleh (tidak memadai) mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang, karena menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu alaihi wasallam (hadits) dan juga perbuatan para sahabatnya.
Siapa yang berhak menerimanya
 
Para ulama berbeda pendapat dalam masalah siapa orang yang berhak menerima zakat fitrah. Akan tetapi yang lebih kuat adalah zakat fitrah hanya diberikan kepada orang fakir dan miskin saja.
Berdasarkan riwayat Dari Ibnu ‘Abbas rdh berkata: “Rasulullah  shallallahu alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyucian jiwa orang yang berpuasa dari kelalaian dan kekejian dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lain)
Oleh: Ahmad Jamaluddin, Lc
Sumber:
1.      Kitab “Shahih Fiqih Sunnah”, karya; Abu Malik kamal, Cetakan, Daarut Taufiqiyah litturats.
2.      Kutaib “Ta’alum Fiqhis Shiyam” karya Majid bin Su’ud al-‘Ausyan.
 

Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman