Nikah Mut’ah Menurut Ahlus Sunnah - El Majalis

Breaking

Koleksi Sifa

September 30, 2013

Nikah Mut’ah Menurut Ahlus Sunnah

Nikah Mut'ah menurut Ahlus Sunnah
Nikah mut’ah adalah satu ikatan pernikahan yang dibatasi oleh waktu tertentu. Artinya jika waktu yang disepakati telah habis maka secara otomatis ikatan tersebut terputus atau berakhir tanpa ada lafadz talaq. Ikatan tersebut tidak mewajibkan memberi nafkah dan tempat tinggal dan tidak ada saling mewarisi jika salah satunya meninggal sebelum selesai masa kotrak. Atau dengan bahasa sederhananya adalah nikah mut’ah adalah kawin kontrak.
Hukum Nikah Mut'ah
Para ulama Ahlus Sunnah telah bersepakat akan haramnya nikah mut’ah. Dan tidak ada yang menghalalkannya selain kelompok Syi’ah Rafidhah.
Keharaman nikah mut’ah didsarkan pada dalil dari al-Qur’an dan al-Hadits serta ijma’ (konsensus).
Dalil dari al-Qur’an:
Allah Swt berfirman: “Dan orang –orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barangsiapa mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-prang yang melampaui batas. (QS. Al-Mukmunun: 5-7)
Penjelasan: Perempuan yang dimut’ah bukanlah statusnya sebagai “istri atau hamba sahaya”. Pertama, jika statusnya (wanita yang dimut’ah) bukan hamba sahaya maka hal ini jelas sekali. Adapun argumen yang menyatakan bahwa wanita tersebut bukan statusnya sebagai istri adalah tidak adanya konsekwensi sebagai suami istri seperti warisan, iddah, talaq, nafkah dan yang semisalnya. Maka jika benar wanita tersebut statusnya istri pasti dia akan mewarisi, beriddah, akan terkena talaq dan juga wajib bagi laki-laki menafkahinya. Nah ketika semua konsekwensi sebagai suami istri tidak ada maka jelaslah bagi kita bahwa wanita yang dimut’ah itu bukan istri.
Sehingga jelaslah bahwa orang yang menghalalkan nikah mut’ah adalah orang-orang yang melampaui batas.
Dalil Dari hadits:
Nikah mut’ah diantara syairi’at islam yang aneh, sebagaimana disebutkan oleh Ibnul ‘Arabi, Ia dibolehkan kemudian diharamkan kemudian dibolehkan kemudian diharamkan sampai hari kiamat. Oleh kerena itu Imam Asy-Syafi’i berkata: “Tidak ada dalam islam sesuatu yang dihalalkan kemudian diharamkan kemudian dihalalkan kemudian diharamkan selain nikah mut’ah.”
Nikah mut’ah dibolehkan oleh nabi   sebelum perang Khaibar disebabkan oleh banyaknya bepergian mereka dan sedikit sekali kesabaran merea terhadap wanita. Kemudian diharamkan pada perang Khaibar kemudian dibolehkan lagi pada saat penaklukan kota Mekkah dan kemudian diharamkan sampai hari kiamat.
Dalil bahwa nikah mut’ah dihalalkan sebelum khaibar kemudian diharamkan pada saat khaibar.
Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya, bahwa ‘Ali berkata kepada Ibnu ‘Abbas rdh: Sesungguhnya nabi   melarang nikah mut’ah dan makan daging keledai pada waktu Khaibar.” (HR. Al-Bukhari).
Penjelasan: Kata ‘melarang’ dalam hadits di atas menunjukkan bahwa sebelumnya nikah mut’ah dibolehkan dan kemudian dilarang pada saat Khaibar.
Adapun dalil dibolehkan lagi pada tahun penaklukan kota Mekkah dan kemudian diharamkan lagi untuk selamanya adalah hadits Ar-Rabi’ bin Saburah al-Juhani, Bapaknya menceritakan kepadanya bahwasanya beliau ketika bersama Rasulullah sa pada waktu penaklukan kota Mekkah, lantas Rasulullah bersabda: “Wahai manusia, dulu aku pernah mengizinkan kepada kalian melakukan mut’ah, sesungguhnya Allah telah mengharamkannya sampai hari kiamat. Barangsiapa yang masih bermut’ah maka biarkanlah mereka (wanita yang dimut’ah) dan jangan kalian ambil apa-apa yang telah kalian berikan kepada mereka.” (HR. Muslim)
Penjelasan: Kita bisa perhatikan pada teks hadits di atas “Sesungguhnya dulu aku pernah mengizinkan kalian bermut’ah”, perizinan ini telah didahului oleh pengharaman. Diharamkan pada saat Khaibar kemudian dibolehkan pada penaklukan kota Mekkah kemudian diharamkan lagi.
Dan hadits-hadits yang menjelaskan tentang keharaman nikah mut’ah banyak dan populer, sampai Ibnu Ruys berkata: “Dan adapun nikah mut’ah, maka telah tetap secara mutawatir dari Nabi  akan keharamannaya.”
Pendapat Madzhab Empat Tentang Mut’ah
1.      Madzhab Hanafiyah
Para ulama hanafiyah telah menetapkan secara tegas bahwa nikah mut’ah adalah batil.
2.      Madzhab malikiyah
Ad-Dusuki dalam Hasyiahnya berkata: “Al-Maziri berkata: Sungguh telah tetap kesepakatan atas larangan nikah mut’ah dan tidak ada yang menyelisinya kecuali ahli bid’ah...”
3.      Madzhab Syafi’iyah
Para ulama syaifi’iyah memandang bahwa nikah mut’ah adalah termasuk dalam nikah yang dilarang.
4.      Madzhab Hanabilah
Para ulama hanabilah mengataka bahwa nikah mut’ah adalah nikah yang terikat dengan syarat yang rusak yang menyebabkan nikahpun rusak dari awalnya yaitu tempo.
 
Dan nikah dengan syarat tempo tertentu adalah batil.Juga nikah ini tidak terikat dengan hukum-hukum seperti talaq dan lainnya sehingga nikah mut’ah seperti nikah batil lainnya.
Sumber: Dan dari artikel yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari link: http://www.muslm.org/vb/archive/index.php/t-249240.html  
 

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Na'am

Heri Purnomo mengatakan...

nice share om, makasih share nya, berguna sekali

souvenir pernikahan murah

Like and Share

test banner

Halaman