Nikah Mut’ah Menurut Syi'ah - El Majalis

Breaking

Koleksi Sifa

September 30, 2013

Nikah Mut’ah Menurut Syi'ah

Nikah mut’ah adalah suatu ikatan pernikahan yang dibatasi oleh waktu tertentu. Artinya jika waktu yang disepakati telah habis maka secara otomatis ikatan tersebut terputus tanpa ada lafadz talaq. Ikatan tersebut tidak mewajibkan bagi laki-laki untuk memberi nafkah dan tempat tinggal dan tidak ada saling mewarisi jika salah satunya meninggal sebelum selesai masa kotrak. Atau dengan bahasa sederhananya adalah nikah mut’ah adalah kawin kontrak.
Rukun nikah mut’ah menurut syi’ah adalah:
1.      Lafadz (ungkapan untuk menikahinya secara mut’ah)
2.      Wanita
3.      Mahar / mas kawin
4.      Tempo / batasan waktu
Mereka tidak mensyaratkan adanya seorang wali dan juga skasi.
Keistimewaan Nikah Mut’ah Menurut Syi’ah
Nikah mut’ah memiliki keistimewaan yang besar dalam aqidah Syi’ah Rafidhah. Dikatakan dalam sumber mereka bahwa ash-Shadiq berkata: “Mut’ah adalah bagian dari agamaku, agama nenek moyangku. Baangsiapa yang mengamalkannya berarti ia mengingkari agama kami, bahkan ia bisa dianggab beragama selain agama kami. Anak yang dilahirkan dari hasil perkawinan mut’ah lebih utama daripada anak yang dilahirkan melalui istri yang tetap. Orang yang mengingkari nikah mut’ah adalah KAFIR dan MURTAD.” (Mulla Fathullah al-Kasyani, Minhajus Shadiqin, 2/495)
Dalam kitab yang lain disebutkan, dari Abdullah bin Sinan, dari Abu Abdullah ia berkata: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas orang-orang Syi’ah segala minuman yang memabukkan, dan menggantikan bagi mereka nikah mut’ah. (Man Laa Yahdhuruhul Faqih, oleh Al-Qummi hal. 330)
Mereka juga menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda: “Barangsiap melakukan mut’ah sekali, maka dia telah merdeka dari neraka sepertiga jiwanya. Barangsiap melakukannya dua kali, maka dua pertiga jiwanya telah terbebas dari neraka. Barangsiapa melakukannya tiga kali, maka telah sempurna terbebas dari neraka.” ((Mulla Fathullah al-Kasyani, Minhajus Shadiqin).
Dalam kitab yang sama dikatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa melakukan nikah mut’ah sekali, maka dia telah mendapatkan derajat seperti Husain. Barangsiapa melakukannya dua kali, maka derajatnya seperti Hasan. Baransiapa melakukannya tiga kali, maka derajatnya seperti Ali Bin Abi Tholib. Barangsiapa bermut’ah empat kali, maka derajatnya seperti derajatku.” (Mulla Fathullah al-Kasyani, Minhajus Shadiqin 2/492).
Adakah Batasan dalam bermut’ah??
Syi’ah Rafidhah tidak membatasi dengan jumlah tertentu dalam bermut’ah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab mereka, dari Zurarah, ia bertanya kepada Abu Abdullah: “Berapa jumlah wanita yang boleh dimut’ah, apakah hanya empat wanita?” Ia menjawab: “Nikahilah (secara mut’ah) seribu wanita, karena mereka adalah wanita-wanita sewaan.”
Dari Muhammad bin Muslim dari Abu Ja’far, ia berpendapat tentang mut’ah, bahwa ia tidak hanya terbatas pada empat wanita, karena mereka tak perlu dicerai, tidak diwarisi, karena mereka adalah wanita sewaan. (Al-Furu’ minal Kaafi, 5/451, at-Tahdzib, 2/188).
Dari penjelasan di atas, jelaslah bagi kita bahwa memang Syi’ah benar-benar agama hawa nafsu bukan agama Islam.
Sumber:  Buku “Kesesatan Aqidah Syi’ah, oleh Syaikh Abdullah bin Muhammad as-Salafi.

Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman