Para Imam Empat Melarang Taklid, Benarkah ? - El Majalis

Breaking

Koleksi Sifa

Agustus 31, 2013

Para Imam Empat Melarang Taklid, Benarkah ?

Dalam realita, kaum muslimin memliki sikap yang berbeda-beda terhadap para imam empat madzhab. Ada diantara mereka yang ekstrim (berlebihan) sehingga memposisikan pendapat para imam seperti hadits Nabi saw sehingga setiap perkataan mereka harus dijadikan satandar kebenaran. Ada lagi yang meremehkan keberadaan mereka sehingga ijtihat dan upaya mereka dalam memahami fiqih islamitidak ada artinya di mata mereka. Tentu kedua sikap tersebut di atas tidak benar.

Adapun sikap yang tepat dalam hal ini adalah sikap pertengahan, artinya kita mengakui bahwa mereka adalah para imam mujtahid yang tidak maksum (terbebas dari kesalahan). Sehingga setiap perkataan mereka harus ditimbang dengan wahyu (al-Qur’an dan al-hadits), jika sesuai dengan wahyu maka kita ikuti (bukan kerena murni perkataan mereka, tapi karena perkataan mereka sesuai dengan sunnah Nabi saw). Dan apabila menyelisihi wahyu maka wajib kita tinggalkan dengan tanpa sedikitpun mengurangi keimaman dan keilmuan mereka.

Dan perlu diingat bahwa tidak ada seorang pun diantara imam empat itu yang sengaja menyelisihi hadits Nabi saw. Akan tetapi hal itu terjadi karena beberapa sebab antara lain:

a.       Berbeda pemahaman dalam memahami nash (dalil), sebagaimana yang terjadi di kalangan sahabat Nabi saw.

b.      Tidak sampainya hadits tertentu kepada mereka. Juga hal ini pernah terjadi di kalangan sahabat Nabi saw.

c.       Berbeda dalam menilai derajat suatu hadits.

d.      Lupa, dan lain-lain

Berikut ini akan saya sebutkan beberapa perkataan dan pernyataan dari para imam empat, tentang bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap pendapat para imam yang ada.

1.      Imam Abu Hanifah (An-Nukman bin Tsabit rh)

a.       “Apabila hadits itu shahih, maka itulah madzhabku.”

b.      “Tidak halal bagi siapapun mengambil perkataan (perndapat) kami selama dia tidak tahu dari mana kami mengambilnya.”

c.       Dalam sebuah riwayat beliau berkata: “Haram hukumnya bagi siapa yang berfatwa dengan perkataanku sementara dia tidak tahu dalilku (landasan dalil).” Dalam riwayat lain ada tambahan, “Sesungguhnya kami adalah manusia, hari ini kita berkata tentang sesuatu dan bisa jadi besok kita meralatnya.”

d.      “Apabila aku mengatakan suatu perkataan yang menyelisihi kitab Allah (al-Qur’an) dan khabar dari Nabi saw, maka tinggalkanlah perkataanku.”


2.      Imam Malik bin Anas rh

a.       “Sesungguhnya aku adalah manusia, bisa salah dan bisa benar, maka lihatlah pendapatku, apa-apa yang sesuai dengan kitab (al-Qur’an) dan sunnah (Hadits), maka ambillah dan apa-apa yang tidak sesuai dengan kitab dan sunnah maka tinggalkanlah.”

b.      “Tidak ada seorang pun setelah Nabi saw wafat kecuali perkataannya bisa ditolak dan bisa diterima kecuali Nabi saw.”


3.      Imam Syafi’I rh

a.       “Apabila hadits itu shahih, maka itulah madzhabku.”

b.      “Semua hadits (yang shahih) dari Nabi saw, maka itulah perkataanku, sekalipun kalian tidak mendengarnya dariku.”

c.       “Kaum muslimin telah berijma’ (sepakat) bahwa barangsiapa telah jelas baginya sunnah Rasulullah saw, maka tidak halal baginya meninggalakan sunnah itu dikarenakan perkataan seseorang.”

d.      “Apabila kalian mendapati dalam kitabku hal-hal yang menyelisihi sunnah Rasulullah saw, maka ambillah sunnah rasulullah saw dan tinggalkan perkataanku.”

e.       “Setiap permasalahan yang dasarnya shahih dari Nabi saw menurut para ahli hadits yang mana hadits tersebut menyelisihi perkataanku, maka saya meralat perkataan itu baik semasa hidupku maupun setelah matiku.”

f.        “Jika kalian melihatku mengatakan suatu perkataan, sedang yang shahih dari Nabi saw berbeda dengan perkataanku, maka ketahuilah bahwa akalku telah pergi.”

g.       “Tidak ada seorang pun melainkan terluput darinya sunnah Rasulullah saw, meskipun aku mengatakan suatu perkataan atau menetapkan satu ushul sedangkan hadits Nabi saw menyelisihi apa yang aku katakana, maka perkataan (yang harus diambil) adalah apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw dan itulah perkataanku.”
 
4.      Imam Ahmad bin Hanba rh

a.       “Janganlah kalian mengikutiku, imam Malik, imam Syafii, imam Auza’i dan jangan pula mengikuti al-Tsauri, tapi ambillah dari (sumber) mereka ambil.”

b.      “Pendapat al-Auza’i, pendapat Malik dan pendapat Abu hanifah, semuanya adalah pendapat dan bagi saya semuanya sama, dan yang menjadi hujjah (dalil) adalah al-Atsar (hadits).”

c.       “Barangsiapa menolak hadits Rasulullah saw (yang shahih), maka dia berada di jurang kebinasaan.”

Kesimpulan:

Dari pemaparan diatas bisa kita tarik satu kesimpulan bahwa para imam empat tidak pernah menyeru para pengikutnya untuk mengambil setiap perkataan mereka, akan tetapi mereka menjelaskan dengan gamblang bahwa sunnah Rasulullah adalah yang harus didahulukan jika ada diantara perkataan mereka yang menyelisihi Hadits nabi saw. 

Wallahu A'lam

~ Semoga bermanfaat ~
 
Oleh: Ahmad Jamaluddin, Lc

 
Sumber: Kitab “Shahih Fiqh Sunnah wa Adillatuhu wa taudhih madzahib al-Aimmah.” Oleh, Abu Malik Kamal ibnu Sayyid Salim. Cet, Darut Taufiqiyah litturats. Jilid, I.

 

 

Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman