Hakikat dan Urgensi Muroqabah - El Majalis

Breaking

Koleksi Sifa

September 30, 2013

Hakikat dan Urgensi Muroqabah


Allah swt berfirman:

“Dan adalah Allah Maha mengawasi segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 52)

Sahabat yang budiman..

Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini kita berada di era globalisasi. Satu zaman dimana perkembangan alat komunikasi dan teknologi semakin pesat dan luar biasa. Tentu sarana-sarana tersebut memiliki pengaruh besar bagi kemajuan dan kejayaan Islam. Akan tetapi di sisi lain, pengaruh negatif dari globalisasi ini pun tak bisa dihindari. Dimana berbagai kemaksiatan begitu mudah dilakukan tanpa harus mengeluarkan banyak biaya. Seseorang bisa mengakses berbagai bentuk kemungkaran hanya dalam hitungan detik saja. Ia akan begitu mudah berbuat maksiat karena maksiat bagitu dekat dengannya, maksiat sudah tersimpan di-hp-nya. Itu semua merupakan diantara efek negatife dari globalisasi ini, ditambah lagi kurang atau bahkan hilangnya muroqabatullah dalam diri seorang muslim.

Definisi Muroqabah

Mungkin diantara kita ada yang bertanya apa sih muroqabatullah itu..? Nah berikut ini akan penulis ketengahkan jawabannya dari salah seorang imam besar yang sudah sangat populer yaitu Al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah v. Ia mengatakan bahwa “Muroqabah adalah satu sikap dimana seorang hamba mengetahui serta meyakini bahwa Allah l senantiasa mengawasi segala sikapnya, baik yang tampak maupun tidak. Inilah yang disebut dengan muroqabah. Apabila seorang hamba meyakini bahwa Allah l senantiasa mengawasinya, tidak ada yang tersembunyi sesuatupun dari-Nya, itulah sejatinya muroqabah itu.” Kemudian beliau melanjutkan “Dan muroqabah merupakan ta’abbut (pendekatan diri) kepada Allah l dengan merealisasikan makna dan konsekwensi dari nama-nama-Nya seperti Ar-Raqib (Maha Mengawasi), Al-‘Alim (Maha Mengetahui), Al-Hafidz (Maha Menjaga), Al-Bashir (Maha Melihat), Al-Syahid (Maha Menyaksikan) dan lain-lain.”

Rasulullah n bersabda: “Sembahlah Allah seakan-akan kamu melihatnya dan jika kamu tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Allah selalu melihatmu.” (HR. Muslim)

Allah l berfirman:

“Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.” (QS. Ali Imran: 5)

Jadi, Muroqabah adalah sikap senantiasa merasa diawasi dan dilihat oleh Allah l dalam segala kondisi dan situasi, baik dalam keadaan sendirian maupun keramaian, di waktu siang maupun dimalan hari, di jalanan atau di kamar sepi semuanya takkan luput dari pengawasan dan penglihatan dari-Nya.

Macam-macam Muroqabah

Sebagian ulama telah menjelaskan bahwa muroqabah terbagi menjadi tiga macam yaitu sebagai berikut;

1.      Muroqabah sebelum melakukan suatu amalan

Seorang muslim sebelum melakukan suatu amalan atau ibadah, hendaknya ia bertanya kepada dirinya ‘untuk apa saya melakukan ini, apa yang saya inginkan dari amalan ini atau apa yang memotivasi saya mengerjakan ibadah ini??. Jika Anda ingin berinfak, maka tanyakan pada diri Anda, apakah saya mengharapkan wajah Allah dari infak ini atau karena ingin dikatakan bahwa saya dermawan dan lain-lain. Oleh kerena itu seorang muslim harus memiliki prinsip, jika amal ia lakukan karena Allah ia lanjutkan, jika sebaliknya maka ia berusaha meluruskan niatnya terlebih dahulu.

Hasan Al-Bashri v bertutur: “Apabila salah seorang diantara mereka ingin bersedekah, maka ia melihat dan berfikir dulu, jika ia bersedekah karena Allah, maka ia lanjutkan kemudian beliau berkata ‘semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti di sisi keinginnannya, jika keinginan itu karena Allah ia lakukan jika karena selainnya maka ia hentikan.”

2.      Muroqabah ketika sedang melakukannya

Seorang hamba harus senantiasa muraqabah disaat ia sedang melakukan suatu amalan. Kita sholat, maka kita harus selalu merasa diawasi oleh Allah dalam keadaan kita berdiri, rukuk dan sujud. Kita berbicara maka hendaknya selalu merasa diawasi oleh Allah sehingga tidak berbicara sesuatu yang dilarang-Nya dan mengundang dosa. Begitu juga hendaknya seorang hamba selalu muroqabah dalam hal waktunya sehingga ia tidak menyia-nyiakan watunya dan seterusnya.

3.      Muroqabah setelah melakukannya

Muroqabah setelah melakukan suatu ibadah berarti merasa khawatir jika amal yang dia lakukan tidak diterima oleh Allah. Ia khawatir jika Allah tidak ridho dengan amalan yang telah ia lakukan, ia merasa belum bisa menunaikan rasa syukur kepada Allah atas beragam kenikmatan yang Allah berikan kepadanya.

Cara mengajarkan anak muroqabah

Muroqabah adalah suatu ibadah hati. Pengaruhnya bagi kehidupan seseorang bagitu dahsyat, sehingga harus dimiliki oleh setiap orang, baik orang dewasa maupun anak kecil. Lantas bagaimana cara kita mengajarkan muroqabah ini kepada anak-anak kita, berikut ini adalah diantara hal yang bisa ditempuh yaitu;

1.      Kenalkan si anak kepada sang penciptanya

Seorang pendidik hendaknya menumbuhkan dalam diri si anak bahwa Allah lah yang telah menciptakannya. Dia adalah Robb yang memiliki neraka yang bahan bakarnya batu dan manusia, Kita harus senantiasa menjaga dan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi semua larangan-Nya dimana pun kita berada. Dialah yang telah memberikan rizki dan kesehatan unutk kita sehingga kita bisa hidup tenang dan bahagia.

2.      Ajarkan si anak makna dan kandungan dari nama-nama Allah l 

Setelah si anak memahami bahwa Allah l yang telah menciptakannya, maka selanjutnya ajarkan dia bahwa Allah itu mempunyai nama-nama yang baik lagi indah, diantaranya adalah Ar-Raqib (Maha Mengawasi), Al-‘Alim (Maha Mengetahui), Al-Bashir (Maha Melihat) kemudian jelaskan makna global dari nama-nama tersebut. Misalnya, katakan pada si anak, ‘Allah l maha mengawasi segala gerak-gerik dan tingkah laku kita. Allah maha melihat setiap langkah dan perbuatan kita dimana pun kita berada, meskipun di tempat dimana tak seorang manusiapun melihat dan mengetahuinya, tapi ingat, Allah l pasti melihat dan mengetahuinya.’

3.      Hendaknya seorang ibu menakuti anaknya dengan kemurkaan Allah.

Seorang anak biasanya lebih takut pada bapaknya daripada ibunya. Karena itu sering kita dapati sang ibu menakuti anaknya dengan kemarahan sang bapak. ‘Nak jangan lakukan itu nanti bapak marah lho..! kata si ibu. Sikap sang ibu ini akan membuat si anak berani melakukan apa yang ia mau jika bapaknya tidak ada atau ia berada jauh darinya. Dan hal ini terjadi akibat jauhnya si anak dari siraman rohani yang benar dan memadai. Maka mulai sekarang ganti kata-kata itu dengan kalimat berikut ini, ‘Nak jangan lakukan itu nanti Allah marah, jangan bohong ya karena Allah Maha mengetahui segala sesuatu’ atau dengan kalimat lainnya.

Inilah sekilas tentang hakikat dari muroqabatullah dan cara bagaimana kita mengajarkan dan menumbuhkan sikap mulia ini pada diri si anak. Mudah-mudahan bermanfaat terutama bagi penulis dan umumnya bagi pembaca yang budiman. Wallahu A’lam 
 
Oleh: Abu Umair, Lc 

~ Artikel ini pernah dimuat di Majalah Gerimis ~

Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman