Mengajarkan Anak Rasa Malu - El Majalis

Breaking

Koleksi Sifa

September 19, 2013

Mengajarkan Anak Rasa Malu

Malu adalah satu akhlak terpuji yang berperan sebagai motor penggerak bagi seseorang untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan. Rasulullah n bersabda dalam sebuah hadits, “Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah apa yang kamu kehendaki/suka.”. Ketika rasa malu sudah tiada, ia akan berbuat semaunya.
Keutamaan Rasa Malu
Rasa malu adalah mutiara dan perhiasan bagi seorang muslim. Sikap mulia ini harus senantiasa dijaga dan dipupuk sehingga ia benar-benar menjadi pelita bagi pemiliknya. Rasulullah n telah menjelaskan dalam hadits-haditsnya yang mulia tentang keutamaan rasa malu, antara lain;
1.      Rasa malu adalah salah satu cabang dari keimanan.
Rasulullah n bersabda: “Iman itu sekitar tujuh puluh atau enam puluh cabang, yang tertinggi adalah perkataan Lailaha illallah dan yang terendah adalah menghilangkan gangguan dari jalan, sedang rasa malu salah satu cabang dari keimanan.” (Muttafaqun `alaih)
2.      Rasa malu akan mengundang banyak kebaikan.
Rasulullah n bersabda: “Rasa malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim) dalam riwayat muslim disebutkan, “Rasa malu itu semuanya kebaikan.” (HR. Muslim)
3.      Malu adalah diantara akhlak yang dicintai Allah l 
Rasulullah n bersabda: “Sesungguhnya Allah -Azzawajalla- Maha Lembut dan Pemalu dan mencintai sifat malu dan tertutup.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Macam-macam rasa malu
1.      Malu kepada Allah l 
Ketika seorang hamba menyadari bahwa ia hidup di bumi Allah, dinaungi oleh langit-Nya, menghirup udara dari-Nya, makan dari rizki dan karunia-Nya serta meyakini bahwa Allah melihatnya, maka ia akan malu kepada Allah l jika Allah melihatnya bermaksiat kepada-Nya, malu kepada-Nya jika ia melalaikan kewajiban-Nya, malu kepada-Nya jika ia tidak mengindahkan aturan-aturan-Nya.
Rasulullah n bersabda: “Malulah kepada Allah dengan sebenarnya.” (HR. At-Tirmidzi)
2.      Malu kepada Malaikat
Allah l telah mewakilkan dua malaikat kepada setiap hamba yang selalu menyertainya, mencatat setiap amal dan gerak-geriknya. Sebagian para shahabat berkata: “Sesungguhnya bersama kalian ada yang selalu menyertai (malaikat), maka malulah kepada mereka dan muliakanlah mereka.” yaitu dengan tidak bermaksiat kepada Allah l.
Allah l berfirman: “(yaitu) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.  Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qof: 17-18)
3.      Malu kepada Manusia
Manusia secara fitroh memiliki rasa malu terhadap sesamanya. Sehingga rasa malu ini menjadi salah satu faktor penghalang seseorang bermaksiat. Oleh karena itu, banyaknya kemaksiatan dilakukan secara terang-terangan menandakan rasa malunya telah pupus.
Hudzaifah bin al-Yaman a bertutur: “Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak merasa malu kepada manusia.”
Ketika hilangnya rasa malu
Ya, ketika rasa malu telah sirna dari lubuk hati seorang hamba. Disaat rasa malu tidak lagi menjadi akhlak seorang muslim, maka muncullah berbagai pelanggaran dan kemaksiatan di tengah-tengah kehidupan manusia. Realita membuktikan akan hal ini, betapa banyak dari wanita yang keluar rumah tanpa mengenakan pakaian islami, mempertontonkan auratnya di hadapan khalayak ramai, dan tidak sedikit dari para pemuda dan pemudi muslim yang bukan mahram berdua-duaan laksana kakak beradik. Na`udzubillahi mindzalik.
Ini adalah contoh kecil dari fenomena yang terjadi di tengah-tengah kehidupan kita kaum muslimin disaat rasa malu sudah sirna. Kenapa ini bisa terjadi ? Karena ketika manusia tidak lagi memiliki rasa malu, maka ia akan berbuat semaunya, ia akan mengikuti hawa nafsunya tanpa memperhatikan batas-batas syar`i sehingga ia menjadi penyembah hawa nafsu.
Rasulullah n bersabda: “Apabila kamu tidak malu maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari).
Malu yang tercela
Rasulullah n telah menegaskan dalam hadits di atas bahwa dalam sikap malu itu terdapat banyak kebaikan. Akan tetapi disana ada sikap malu yang tidak mengandung kebaikan sama sekali bahkan membawa kerugian bagi pemiliknya, seperti malu bertanya dalam hal agama, malu mengenakan pakaian islami, malu jika tidak ikut merokok, malu jika tidak punya pacar, malu jika menjadi pemuda yang taat, malu..dan malu…dst. Tetapi ironisnya dia tidak pernah malu jika tidak sholat dan bahkan dia bangga dengan sikap buruknya itu. Nu`dzubillah
Metode mengajarkan anak rasa malu
Menanamkan akhlak terpuji dalam hati-hati anak kita sejak dini merupakan hal penting yang mesti mendapat perhatian dari orang tua atau pendidik, terlebih di era globalisasi dimana kerusakan moral dan akhlak begitu merebak. Diantara akhlak yang harus diajarkan kepada mereka adalah rasa malu. Bagaimana mengajarkan rasa malu dan menanamkannya dalam diri mereka, berikut ini adalah beberapa tips yang disarankan untuk mewujudkan hal di atas, yaitu;
1.      Memberitahukan tentang arti dari sikap malu
Rasa malu adalah sifat terpuji lagi mulia. Rasa malu yang ada pada seseorang akan menghalanginya berbuat yang tidak baik atau menghalanginya meninggalkan kewajibannya. Orang yang tidak mau melaksanakan sholat atau mengakhirkannya adalah salah satu tanda tidak adanya rasa malu. Bukankah Allah telah memberikan kesehatan, rizki dan karunia yang banyak kepadanya lalu ia diminta untuk mensyukurinya dengan melakukan sholat, akan tetapi ia tidak mau. Benar-benar rasa malunya telah sirna.
2.      Memberi qudwah hasanah
Lagi-lagi qudwah menjadi sarana pembelajaran yang ampuh. Orang tua harus mempertunjukkan pada anak-anaknya rasa malu agar mereka mudah memahaminya. Misalnya, tidak memakai pakaian yang tidak pantas dihadapan anaknya ketika berada dirumah atau kenakan pakaian yang menutup aurat ketika keluar rumah.
3.      Memberi contoh ril rasa malu
Contoh ril yang bisa langsung diraba dan dilihat oleh si anak adalah salah satu cara yang mungkin bisa ditempuh. Misalkan, kita katakan kepada si anak, kenapa manusia menutupi tubuh mereka dengan pakaian yang sempurna,? karena mereka malu jika auratnya terbuka dan dilihat oleh orang lain.
4.      Memberikan contoh ril hilangnya rasa malu
Misalkan orang tua berkata kepada anaknya, Nak tau ngak, kenapa ada manusia keluar rumah dengan celana pendek atau tidak menutupi aurat? karena rasa malunya udah hilang nak, makanya ia berbuat semaunya.
Semoga tulisan ini bermanfaat terutama bagi penulis sendiri dan kemudian bagi para pembaca yang budiman. Kita mohon kepada Allah l agar menjadikan rasa malu adalah akhlak bagi kita. Wallahu A`lam
~ Pernah dimuat di majalah Gerimis pada Rubrik Pendidikan Anak ~
 
Oleh: Abu Umair, Lc

Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman