Tuntunan Praktis Dalam Berkurban (2) - El Majalis

Breaking

Koleksi Sifa

Juli 21, 2018

Tuntunan Praktis Dalam Berkurban (2)

Syarat -syarat yang berkaitan dengan hewan kurban

Syarat pertama: Hewan kurban milik orang yang berkurban (milik pribadi), dengan kepemilikan sesuai dengan syara’.

Oleh sebab itu, kurban tidak sah jika menggunakan hewan hasil curian atau dimiliknya dengan akad yang rusak atau dibeli dengan uang yang haram, seperti uang riba dan selainnya.

Syarat kedua: Jenis hewan yang dijadikan kurban harus sesuai dengan ketetapan syari’at, yaitu: unta, sapi atau kambing. Itulah yang dimaksud dengan bahimatul an-‘am (binatang ternak) dalam surat al-Hajj: 34.

Syarat ketiga: Hewan ternak tersebut sudah mencapai umur yang cukup menurut syara’, yaitu:

a.       Untuk domba adalah jadza’ah (umur 6 bulan, masuk bulan ke 7).

b.      Untuk kambing adalah tsany (umur satu tahun, masuk tahun kedua).

c.      Untuk sapi; dua tahun masuk ketiga.

d.      Untuk untu; lima tahun, masuk keenam.

Syarat keempat: Hewan tersebut tidak boleh cacat, dengan cacat yang dilarang oleh syara’. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam berikut:

“Empat hewan tidak boleh dijadikan sebagai hewan kurban: 1) hewan yang cacat matanya dengan cacat yang jelas, 2) hewan yang sakit dan jelas sakitnya, 3) hewan yang pincang yang jelas pincangnya dan 4) hewan yang kurus kering, yang tidak dapat digemukkan lagi.” (HR. Abu Dawud dan lain-lain, dishahihkan oleh Al-Albani).

Adapun cacat yang lebih parah dari empat hal di atas, seperti tidak bisa melihat, terpotong salah satu kakinya, menderita penyakit yang mematikan dan lain-lain yang seurupa adalah dikiaskan kepada empat hal tersebut dalam hadits, karena cacat ini lebih utama untuk dijadikan alasan tidak memadainya untuk dijadikan sebagai hewan kurban.

Cacat yang tidak disukai (makruh) pada hewan kurban

a.       Terpotong setengah telinganya atau lebih.

b.      Daun telinganya terbelah atau sobek melebar dari depan.

c.      Daun telinganya terbelah atau sobek melebar dari belakang.

d.      Daun telinganya terbelah atau sobek memanjang.

e.      Daun telinganya bolong.

f.       Daun telinganya buntung hingga lubang telingan telihat.

g.      Tanduknya terlepas dari pangkalnya.

h.      Yang tidak terlalu kurus.

Untuk berapa orang kah satu kambing, sapi dan unta ?

Jika seseorang berkurban dengan seekor domba atau kambing, maka satu itu sudah cukup untuk kurbannya dan keluarganya. Hal ini sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Abu Musa ketika beliau ditanya tentang kurban di zaman Nabi n. Ia berkata: “Seseorang berkurban dengan seekor domba (atau kambing) untuk dirinya dan keluarganya. Mereka makan darinya dan memberi makan orang lain...” (HR. At-Tirmidzi).

Adapun unta dan sapi cukup untuk tujuh orang. Berdasarkan hadits Jabir bin Abdillah a, ia berkata: “Kami berkurban bersama Rasulullah n pada tahun Hudaibiyah dengan seekor unta untuk tujuh orang dan sapi untuk tujuh orang. “ (HR. Muslim).

Pembagian daging kurban

Dianjurkan bagi orang yang berkurban untuk memakan sebagian daging kurbannya, menyedekahkan yang lainnya. Hal ini berdaasarkan firman Allah swt: “Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan oleh orang-orang sengsara dan fakir.” (QS.Al-Hajj: 28).

Dan berdasarkan sabda Nabi n: “Makanlah, simpanlah dan sedekahkanlah.” Dalam lafadz lain, “Makanlah dan berbekallah.” (HR. Muslim).

Banyak ulama yang menganjurkan agar daging kurban dibagi tiga bagian; sepertiga untuk disimpan, sepertiga untuk disedekahkan an sepertiga lagi untuk dimakan.

Hukum menjual sesuatu dari kurban

Tidak boleh menjual sesuatu dari hewan kurban, baik kulitnya maupun dagingnya. Jika seseorang disewa untuk menyembelih kurbannya, maka orang yang menyembelih tersebut tidak boleh diberi upah dari kurban tersebut. hal ini berdasarkan hadits ‘Ali a, ia berkata: “Rasulullah n memerintahkan aku untuk mengurus daging kurban, mensedekahkan dagingnya dan juga kulitnya. An aku diperintahkan untuk tidak memberi upa kepada penyembelih yang diambil dari sebagian kurban.” Ali berkata, “Kami memberikan upah tersebut dari uang kami sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Wallahu A’lam

Oleh: Abu Umair, Lc

Referensi:

1.      Kitab “Shahih fiqh as-Sunnah”, karya: Abu Malik kamal.

2.      Buku “Fiqh as-Sunnah”, karya, Sayyid Saabiq

3.      Buku saku “Tuntunan Praktis & Syar’i Berkurban”, karya, Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah.

Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman