Ummu ‘Umarah, Sang Pejuang Mukminah - El Majalis

Breaking

Koleksi Sifa

September 30, 2013

Ummu ‘Umarah, Sang Pejuang Mukminah

Namanya adalah Nasibah binti Ka’ab bin ‘Amr bin ‘Auf bin Mabdzul, seorang wanita Anshar dari Bani Najjar.
            Dia termasuk kelompok wanita Madinah yang pertama-tama memeluk Islam. Ummu ‘Umarah adalah salah satu dari dua wanita yang berangkat dari Madinah ke Makkah bersama rombongan laki-laki kaum Anshar untuk mengadakan bai’at dengan Rasulullah n.
            Selain dikenal sebagai wanita yang mempunyai sifat-sifat utama dan keshalihannya, dia juga seorang pejuang wanita yang gagah berani serta tidak takut menghadapi maut dalam berjuang fi sabilillah.
            Bersama suaminya, Ghaziyah bin ‘Amr dan dua anaknya, ‘Abdullah dan Habib, dari suaminya terdahulu, Zaid bin ‘Ashim bin ‘Amr, Ummu ‘Umarah turut serta dalam perang Uhud.
            Menjelang siang dia sudah bergegas membagi air minum kepada para pejuang muslim yang terluka. Saat pasukan muslim terpukul mundur, Ummu ‘Umarah segera bergabung bersama Rasulullah n dengan bersenjatakan pedang dan turut menyerang musuh dengan panah.
Dia bertempur dengan gigihnya sambil merintangi orang kafir yang hendak menyerang Nabi dengan kainnya sampai dia terluka sebanyak 13 luka. Lukanya yang paling parah adalah luka yang mengenai pundaknya akibat tikaman senjata musuh Allah yang bernama Ibnu Qami’ah. Untuk mengobati luka tersebut sampai sembuh, dibutuhkan waktu setahun penuh. 
            Akan tetapi, saat seorang penyeru Rasulullah n menyerukan kepada kaum muslim untuk berangkat ke medan perang Hamra’ul Asad, Ummu ‘Umarah menganggap ringan lukanya yang parah itu. Dia pun membalut lukanya, tetapi ia tetap saja tidak bisa menghentikan darahnya yang terus mengalir.
            Ummu ‘Umarah bercerita tentang keikutsertaannya dalam perang uhud.
            “Aku melihat orang-orang berhamburan dari sisi Rasulullah n sampai tidak lebih dari sepuluh orang yang tersisa di sisi beliau n. Pada waktu itu aku, kedua anakku dan suamiku berada di depan Nabi n untuk melindungi beliau dari serangan, sedangkan manusia terus berlarian karena terdesak mundur. Rasulullah n  melihatku yang saat itu tidak membawa tameng. Ketika melihat seorang laki-laki yang hendak melarikan diri dengan membawa tameng, beliau n bersabda padanya: ‘Berikan tamengmu kepada orang yang sedang berperang!’ Laki-laki itu kemudian melemparkan tamengnya dan tameng itu segera kuambil dan kujadikan perisai untuk melindungi Rasulullah n.
            Ketika itu banyak penunggang kuda yang menyerang kami. Seandainya mereka hanya berjalan kaki seperti kami, insya Allah kami bisa mengalahkan mereka.
            Tidak lama setelah itu, tiba-tiba ada seorang laki-laki dengan berkendaraan kuda datang menyerangku, namun aku bisa melindungi diri dengan tameng itu sehingga pedangnya tidak menyentuhku sedikit pun. Saat ia hendak melarikan diri, aku berhasil memukul urat kening kudanya, sehingga laki-laki itu pun terjatuh bersama kudanya. Melihat kejadian itu, Rasulullah n berseru:
            “Wahai Ibnu Ummu ‘Umarah, ibumu, ibumu!”
            Anakku pun lalu membantuku menyerang laki-laki itu sampai akhirnya aku berhasil membunuhnya.”
            Anaknya, ‘Abdullah bin Zaid berkata: “Saat itu aku terluka dan darah terus mengalir dari lukaku. Rasulullah n berkata padaku: ‘Balutlah lukamu!’ Pada saat itu Ummu ‘Umarah sedang sibuk memerangi musuh-musuhnya. Ketika dia mendengar seruan Rasulullah n, dia kemudian mendatangiku sambil membawa kain perban di pinggangnya yang memang sudah dia persiapkan untuk orang-orang yang terluka.
            Dia lalu membalut lukaku, sementara Nabi n berdiri memandangi kami. Setelah selesai membalut lukaku, ibuku berkata padaku: ‘Baangkitlah, wahai anakku dan seranglah mereka!’ Mendengar hal itu Rasulullah n berkata: ‘Adakah orang yang tangguh seperti ketangguhanmu, wahai Ummu ‘Umarah?’
            Tiba-tiba orang yang melukaiku datang mendekat, maka Rasulullah berkata kepada Ummu ‘Umarah : ‘Itulah orang yang telah mencederai anakmu, wahai Ummu ‘Umarah.’ Ummu ‘Umarah pun langsung mendekati orang itu dan membabat betisnya hingga membuatnya tersungkur ke tanah. Melihat hal itu, Nabi n tersenyum hingga terlihat gigi taringnya. Beliau n bersabda: ‘Engkau sudah dapat membalas luka anakmu, wahai Ummu ‘Umarah.’
Tidak lama setelah itu, datanglah beberapa shahabat memberikan bantuan untuk menyerang laki-laki itu hingga akhirnya mereka berhasil menghabisinya. Melihat kejadian itu, Rasulullah n bersabda kepada Ummu ‘Umarah: ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kemenangan kepadamu, menggembirakanmu dengan terkalahkannya musuhmu, dan memperlihatkan tuntut balasmu di depan matamu.’ “
Waktu terus berlalu. Prajurit wanita mukminah ini terus mengabdikan hidupnya untuk kepentingan Islam dan menunaikan kewajibannya dengan mengerahkan seluruh kemampuannya, baik saat terjadi peperangan maupun di luar peperangan. Ummu ‘Umarah juga pernah ikut serta bersama Nabi n dalam Bai’atur Ridhwan di Hudaibiyyah, yakni sebuah sumpah setia untuk berani mati syahid di jalan Allah, dan hal ini telah dibuktikan Ummu ‘Umarah saat terjadi perang Hunain dan pada perang lainnya.
Atas sumbangsihnya kepada Islam, Ummu ‘Umarah sangat dihormati oleh kaum muslim pada masanya.
Itulah sekelumit dari sepak terjang ummu `Umarah di medan juang dalam rangka berkontribusi untuk Islam dan kaum muslimin. Semoga sosok wanita shalihah ini menjadi salah seorang panutan bagi kaum muslimah masa kini.
 
Oleh: Ummu Umair
 Sumber: Buku “Shahabat wanita utama Rasulullah n dan keteladanan mereka” karya Mahmud Mahdi Al-Istambuli, Musthafa Abun Nashri Asy-Syilbi.
 

Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman