Inilah Dua Macam Dzikir - El Majalis

Breaking

Koleksi Sifa

Januari 22, 2018

Inilah Dua Macam Dzikir

Sahabat elMajalis yang budiman. Salah satu ibadah yang sangat mudah dan ringan dilakukan adalah dzikrullah. Dzikrullah itu memiliki bebera macam jika ditinjau dari sisi yang berbeda. untuk lebih jelasnya silahkan simak penjelsan singkat berikut ini.
Jika dilihat dari sisi tata cara pelaksanaannya, dzikir terbagi menjadi dua macam yaitu;

 1. Dzikir muqayyad 
    Dzikir muqayyad adalah dzikir yang terikat dengan waktu, tempat dan bilangan tertentu, seperti dzikir setelah sholat, dzikir pagi dan petang, dzikir setelah adzan dan lain-lain. Dzikir ini harus diterapkan sebagaimana tuntunannya tanpa ada sedikitpun penambahan atau pengurangan atau menggatikannya dengan kata lain.
2.      Dzikir mutlaq
Dzikir mutlaq adalah dzikir yang tidak terikat dengan waktu, tempat dan bilangan tertentu, akan tetapi ia dapat dilakukan pada setiap harinya.
Tingkatan dzikir dari sisi keutamaan
Sebagaimana halnya amal sholeh yang lain, dzikir juga memiliki tingkatan keutamaan yang berbeda-beda.
Imam Ibnul Qayyim rh berkata: “Membaca al-Qur’an lebih baik dari dzikir dan dzikir lebih baik dari doa. Ini kalau dilihat secara terpisah. Dan terkadang sesuatu (dzikir) yang kurang utama bisa menjadi lebih utama bahkan keharusan, sehingga tidak boleh berpaling dari yang kurang utama kepada yang utama. Hal ini seperti tasbih dalam ruku’ dan sujud, keduanya lebih utama dari membaca al-Qur’an pada saat ruku’ atau sujud bahkan membaca al-Qur’an disaat itu terlarang terlepas hal tersebut dihukumi haram atau makruh.
Begitu juga tasmi’ (ucapan ‘samiallahu liman hamidah’) dan tahmid pada tempatnya lebih baik dari pada membaca al-Qur’an, begitu juga tasyahhud dan doa duduk antara dua sujud lebih baik daripada membaca al-Qur’an.
Demikian pula dzikir setelah salam dari sholat seperti tahlil, takbir dan tahmid lebih baik dari pada membaca al-Qur’an, begitu juga menjawab muadzin dan mengatakan apa yang ia katakan lebih baik dari membaca al-Qur’an. Meskipun keutaamaan al-Qur’an atas seluruh perkataan seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya. Akan tetapi pada setiap kondisi ada perkataan (yang sesuai dengan kondisinya), kapan saja kesempatan tersebut hilang dan berpindah kepada yang lain niscaya hilanglah hikmah dan maslahat yang diharapkan itu.
            Demikian pula dzikir-dzikir yang muqayyad (terikat) dengan kondisi tertentu lebih baik dari membaca al-Qur’an secara mutlaq (tidak terikat dengan waktu), dan membaca al-Qur’an yang mutlaq lebih baik daripada dzikir yang mutlaq. Kecuali pada kondisi seorang hamba dimana dzikir dan doa lebih bermanfaat baginya dari membaca al-Qur’an, seperti disaat ia merenungi dosanya, maka muncullah (keinginan) taubat dan istighfar, atau ia pada kondisi ketakutan dari gangguan setan dari bangsa jin dan manusia, sehingga ia berpindah (dari baca al-Qur’an) kepada dzikir atau doa yang menjadi sebab penjagaannya (dari gangguan setan). ~ Disarikan dari beberapa sumber ~
 ==========
By: Abu Umair Al-Atjehi, Lc
Artikel: www.elmajalis.com



Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman