Ketika As-Sunnah Ditinggalkan - El Majalis

Breaking

Koleksi Sifa

Januari 25, 2014

Ketika As-Sunnah Ditinggalkan

ketika as sunnah ditinggalkan, bahaya peninggalan terhadap sunnah
Sahabat Muslim, Pada postingan sebelumnya, penulis telah paparkan secara global tentang dalil-dalil dari al-Qur’an yang  mewajibkan bagi setiap muslim untuk mengikuti dan bepegang teguh kepada as-Sunnah. Nah, pada postingan kali ini, penulis ingin menjelaskan tentang akibat dan bahaya meninggalkan pengamalan terhadap sunnah Rasulillah n, perlu diingat, bukan mengingkari sunnah, karena kalau sudah pada tingkat pengingkaran terhadap as-sunnah atau dengan kata lain hanya beramal dengan al-Qur’an saja, maka ancaman dan bahayanya jauh lebih besar dari yang akan kita sebutkan. Diantara bahaya-bahaya meninggalkan pengamalan terhadap sunnah adalah sebagai berikut:
1.    Bermaksiat kepada Allah swt
Kenapa ketika seorang muslim tidak mengikuti sunnah Nabi saw dikatakan telah bermaksiat kepada Allah? Karena dia telah meninggalkan satu perintah Allah swt yaitu perintah untuk mengikuti dan berpegang teguh kepada as-Sunnah sebagaimana yang telah disebutkan dalam pembahasan sebelumnya tentang beberapa dalil yang mewajibkan pengikutan kepada as-Sunnah.
Allah swt berfirman:
{وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ العِقَابِ} .
Apa yang diberikan Rasul kepada kalian, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagi kalian, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr: 7)
 Al-Imam Ibnu Katsir v berkata ketika menafsirkan ayat ini: “Artinya, apapun yang diperintahkan kepada kalian olehnya (Nabi) maka laksanakanlah dan apapun yang dilarang olehnya maka tinggalkanlah, kerena sesungguhnya dia hanya memerintahkan kebaikan dan melarang dari keburukan.”
Syaikh as-Sa’di v dalam tafsirnya mengatakan: “Dan perintah dalam ayat ini mencakup hal-hal yang bersifat ushul dan cabang-cabangnya baik yang zhahir (tampak) maupun yang bathin (tidak tampak). Semua yang dibawa oleh Rasul, menjadi kewajiban bagi setiap hamba untuk mengambil dan mengikutinya serta tidak halal menyelisihinya. Karena ketetapan Nabi terhadap suatu hukum sama seperti ketetapan Allah ta’ala, dan tidak ada keringanan dan ‘uzur bagi seorang pun untuk meninggalkannya serta tidak boleh mendahulukan perkataan seorang pun atas perkataannya.”
 2.    Menyalahi perintah Rasulullah n

Disamping meyelisihi perintah Allah ta’ala, ia pun telah menyelisihi perintah Rasulullah saw. Karena beliau juga telah memerintahkan kaum muslimin sekalian untuk mengikuti dan berpegang teguh kepada sunnahnya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang shahih bahwa beliau sawbersabda: “Berpegang teguhlah kalian kepada sunnahku dan sunnah khulaf ar-Rasyidin setelahku dan gigitlah dengan gigi geraham kalian.” (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud dll).
Dan akibat dari bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya sudah dijelaskan dengan sangat gamblang dan tegas baik di dalam al-Qur’an maupun As-Sunnah.
Allah swt berfirman:
“Dan Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka Sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (QS. Al-Jin: 23)
Rasulullah n bersabda: “Setiap ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan”, para sahabat bertanya siapa mereka yang enggan wahai Rasulullah?, beliau menjawab: “Barangsiapa yang taat kepadaku dia masuk surga dan barangsiapa yang bermaksiat kepada ku maka dia adalah yang enggan (masuk surga).” (HR. Muslim)
3.    Menimbulkan fitnah
Menyelisihi sunnah dan perintah Nabi n akan menyebabkan fitnah berupa penyimpangan dan kesesatan dalam hatinya, sebagaimana Allah tegaskan dalam al-Qur’an.
{فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ}
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nuur: 63).
Ibnu Katsir v berkata:Maksud menyalahi perintahnya adalah perintah Rasulullah n yang berarti menyelisihi jalannya, manhajnya, sunnahnya dan syari’atnya.
Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Apakah engkau tahu apa fitnah itu? Fitnah di sini maksudnya adalah syirik, karena apabila ia menolak sebagian sabda beliau, niscaya terjadi suatu peyelewengan dalam hatinya, sehingga ia binasa.”
Al-Qurthubi v berkata: “...Fitnah disini adalah pembunuhan, itulah yang dikatakan Ibnu ‘Abbas. Ada lagi yang berkata: yaitu ditutup hatinya dengan sebab bahaya buruknya menentang Rasul n.”
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa suatu hari seorang laki-laki bertanya kepada imam Malik, wahai imam, dari mana saya ber-ihrom ketika ingin melaksanakan ibadah haji atau umroh? Imam Malik menjawab, dari Dzul Hulaifah (miqot Ahli Madinah) miqot Rasulullah ketika melaksanakan ibadah haji atau umroh. Si penanya mengatakan, “Saya ingin ber-ihrom dari sisi kubur Nabi n.”
Imam Malik berkata, “jangan kamu lakukan itu, karena aku takut terjadi fitnah atas dirimu.” Si Penanya berkata lagi, “fitnah apa yang engkau takuti, padahal saya hanya menambahkan beberapa mil saja dari miqot Rasulullah,?” maka Imam Malik menjawab, “Fitnah apalagi yang lebih besar daripada anggapan bahwa kamu lebih mendapat petunjuk daripada Rasulullah n.
 4.    Tertolak Amalnya
Ya, siapapun yang tidak mengikuti sunnah Rasulillah dalam melaksanakan suatu peribadatan maka tidak akan ditrima alias tertolak. Kenapa? karena mengikuti sunnah dalam beramal adalah salah satu syarat diteimanya amal. Sebagaimana yang telah dimaklumi bersama bahwa syarat diterimanya suatu ibadah adalah dua, pertama, ikhlas dan yang kedua, mengikuti sunnah Rasulillah n.
Rasulullah n bersabda:
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia tertolak.” (HR. Muslim)
Artinya, tidak mengikuti sunnah Rasulullah dalam ber’amal, maka amal tersebut tertolak.
Inilah diantara bahaya ketika seseorang meninggalkan sunnah Rasulillah n yang mungkin saya rangkum pada kesempatan ini. Meskipun sebenarnya masih banyak lagi bahaya-bahaya lain yang menimpa orang-orang yang meninggalkan sunnah Rasulillah n. Tapi bagi siapa saja yang ingin mencari kebenaran maka empat poin tersebut di atas sudah cukup baginya. Semoga bermanfat.
Wallahu A’lam
Oleh: Abu Umair, Lc.

Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman