Harta Adalah Tanda Kemuliaan, Benarkah ? - El Majalis

Breaking

Koleksi Sifa

Februari 05, 2018

Harta Adalah Tanda Kemuliaan, Benarkah ?



Sahabat elMajalis yang budiman. Salah satu sunnatullah atau ketentuan Allah yang terus terjadi pada hamba-Nya adalah kekayaan dan kemiskinan. Maksudnya bahwa Allah swt telah menetapkan bahwa para hamba-Nya memiliki strata sosial yang berbeda-beda. Ada di antara mereka Allah berikan kekayaan dan ada juga di antara mereka yang Allah taqdirkan hidup miskin. Dan hal ini sudah menjadi hal yang dimaklumi oleh setiap manusia karena memang begitulah realitanya.

Tapi, yang menjadi pertanyaan besar, apakah kekayaan itu adalah tanda bahwa seseorang dimuliakan oleh Allah dan apakah kemiskinan itu pertanda seseorang dihinakan di sisi Allah..?

    Ada di antara manusia apabila dia diberi kemudahan, kelapangan atau kekayaan, dia mengira bahwa Allah telah memuliakannya dengan bukti bahwa Allah memberikan kekayaan kepadanya. Dan apabila dia deberikan kesempitan, kekurangan atau kemiskinan, dia mengira bahwa Allah telah menghinakannya dengan bukti Allah sempitkan hidupnya. 

Apakah anggapan di atas benar atau salah ??

Sahabat yang budiman..!!

      Sebenarnya pertanyaan di atas sudah di jawab langsung oleh Allah swt di dalam al-Qur’an tepatnya di dalam surat al-Fajr: 15-17. 

))فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16) كَلَّا 
“Adapun apabila manusia itu diuji oleh tuhannya, dengan dimuliakannya dan diberikan kenikmatan kepadanya, maka ia berkata, Tuhanku telah memuliakanku (15) dan apabila manusia diuji dengan disempitkan rizkinya, maka ia berkata, Tuhan ku telah menghinakanku (16) Sekali-kali bukan demikian (seperti anggapan kalian) … (QS. Al Fajr: 15-17)

Imam Ibnu Katsir rh ketika menafsirkan ayat di atas berkata: 

))يقول تعالى منكراً على الإنسان ، إذ وسع الله تعالى عليه في الرزق ليختبره ، فيعتقد أن ذلك من الله إكرام له ، وليس كذلك بل هو ابتلاء وامتحان ، كما قال تعالى : { أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِن مَّالٍ وَبَنِينَ * نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الخيرات بَل لاَّ يَشْعُرُونَ } [ المؤمنون : 55-56 ] وكذلك في الجانب الآخر إذا ابتلاه وامتحنه وضيق عليه في الرزق ، يعتقد أن ذلك من الله إهانة له ، قال الله تعالى : { كَلاَّ } أي ليس الأمر كما زعم لا في هذا ولا في هذا ، فإن الله تعالى يعطي المال من يحب ومن لا يحب ، ويضيق على من يحب ومن لا يحب ، وإنما المدار في ذلك على طاعة الله في كل من الحالين ، إذا كان غنياً بأن يشكر الله على ذلك ، وإذا كان فقيراً بأن يصبر.((

“Allah swt berfirman sebagai bentuk pengingkaran terhadap anggapan manusia (yaitu) dimana ketika Allah meluaskan rizkinya untuk mengujinya, ia meyakini bahwa pemberian itu adalah salah satu bentuk pemuliaan Allah terhadap dirinya, padahal sebenarnya bukanlah demikian tapi hal tersebut adalah ujian dan cobaan (dari Allah). Sebagaimana firman Allah (surat al-Mukminun: 55-56). Di sisi lain, apabila dia diuji dengan disempitkan rizkinya, ia meyakini bahwa hal itu merupakan penghinaan dari Allah terhadapnya. (maka) Allah berfirman “Sekali-kali tidak” artinya: Hal itu bukanlah seperti yang disangka, kedua anggapan tersebut salah. Karena sesungguhnya Allah swt memberikan harta (kekayaan) kepada orang yang Dia cintai dan juga kepada orang yang dia benci, dia menyempitkan rizki orang yang Dia cintai dan juga orang yang Dia benci. Sesungguhnya barometernya (mulia tidaknya) adalah ada pada ketaatan kepada Allah di dalam kedua konsisi tersebut (kaya atau miskin). Apabila dia kaya maka hendaklah dia bersyukur atas nikmat tersebut dan apabila dia miskin maka hendaklah bersabar.” dikutip dari kitab :
(تيسير العلي القدير لاختصار تفسير ابن كثير المؤلف : محمد نسيب الرفاعي)

    Jadi, kesimpulannya bahwa kekayaan dan kemiskinan adalah ujian dan cobaan dari Allah swt dan tidak ada hubungannya dengan kemuliaan dan kehinaan. Adapun barometer kemuliaan seseorang adalah terletak pada ketaatan dan ketaqwaan seorang hamba di sisi Allah swt. Semoga kita semua termasuk dari hamba-Nya yang bertaqwa.

Wallahu A’lam.
Semoga bermanfaat.
Oleh: Abu Umair al-Atjehi, Lc
========
Artikel: www.elmajalis.com

Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman