Jangan Melihat Orang Yang Di atasmu..!! - El Majalis

Breaking

Koleksi Sifa

Februari 03, 2018

Jangan Melihat Orang Yang Di atasmu..!!



kufur nikmat,
Sahabat elMajalis yang dirahmati Allah swt. Sebagaimana yang telah kita maklumi bersama bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah suri tauladan umat manusia sepanjang masa. Beliau shallallahu alaihi wasallam adalah sumber inspirasi bagi seorang muslim, pembimbing manusia menuju jalan menuju surga Allah swt.
     Oleh sebab itu, semua perkara yang dapat mendekatkan diri kita kepada surga Allah telah beliau sampaikan kepada umatnya dan semua hal yang dapat menjauhkan kita dari surga Allah swt telah beliau peringatkan ummatnya agar menjauhinya.
Diantara petunjuk beliau yang hendaknya selalu menjadi perhatian kita adalah bagaimana sikap seorang muslim terhadap kenikmatan duniawi yang Allah anugrahkan kepadanya atau kepada selain dirinya..?
      Rasulullah shallallahu alaihi wasallam jauh-jauh hari telah memberikan tuntunan dalam masalah ini agar kita tidak salah dalam bersikap. Perhatikan dan renungilah sabda beliau berikut;
((انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ ، وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ ، فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ ))
“Lihatlah oleh kalian kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan kalian melihat kepada orang yang berada di atas kalian, Karena sesungguhnya sikap yang demikian agar kalian tidak meremehkan kenikmatan yang ada pada kalian.” (HR. Muslim, At Tirmidzi dan Ibnu Majah)

    Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kita agar dalam masalah keduniaan (harta, tahta, kekayaan, kemewahan dan lainnya) supaya melihat kepada orang-orang yang dari sisi keduniaanya berada dibawah kita. Karena hal itu akan lebih dapat bersyukur atas nikmat yang ada pada kita. Sebab biasanya kalau seseorang melihat orang yang berada di atasnya dalam hal dunia, dia akan meremehkan, dia akan merasa bahwa apa yang dimilikinya itu tidak ada artinya.kenapa demikian ? karena dia membandingkan dengan orang yang memiliki kekayaan yang jauh lebih banyak darinya.
     Oleh karena itu, beliau shallallahu alaihi wasallam melarang kita melihat orang-orang yang berada di atas kita dalam hal keduniaan, kekayaan dan kemewahan supaya kita lebih mensyukuri apa yang ada pada diri kita.

Sebagian ulama salaf bertutur:
))صَاحِبْتُ الأَغْنِيَاءَ فَكُنْتُ لاَ أَزَالُ فِي حُزْنٍ، فَصَحِبْتُ الْفُقَرَاءَ فَاسْتَرَحْتُ((
“Aku pernah berteman dengan orang-orang kaya, maka aku selalu merasa sedih kamudian aku berteman dengan orang-orang miskin baru kemudian aku merasa tenang.”  

     Ibnu Jarir dan yang lainnya berkata ketika mengomentari hadits di atas:
هَذَا حَدِيث جَامِع لِأَنْوَاعٍ مِنْ الْخَيْر ؛ لِأَنَّ الْإِنْسَان إِذَا رَأَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا طَلَبَتْ نَفْسه مِثْل ذَلِكَ ، وَاسْتَصْغَرَ مَا عِنْده مِنْ نِعْمَة اللَّه تَعَالَى ، وَحَرَصَ عَلَى الِازْدِيَاد لِيَلْحَق بِذَلِكَ أَوْ يُقَارِبهُ . هَذَا هُوَ الْمَوْجُود فِي غَالِب النَّاس . وَأَمَّا إِذَا نَظَرَ فِي أُمُور الدُّنْيَا إِلَى مَنْ هُوَ دُونه فِيهَا ظَهَرَتْ لَهُ نِعْمَة اللَّه تَعَالَى عَلَيْهِ ، فَشَكَرَهَا ، وَتَوَاضَعَ ، وَفَعَلَ فِيهِ الْخَيْر .
“Hadits ini mengumpulkan beragam jenis kebaikan, karena apabila manusia melihat orang yang dilebihkan (berada di atasnya) dalam urusan dunia, dirinya ingin seperti orang tersebut dan dia akhirnya meremehkan apa yang dia miliki dari kanikamatan Allah swt, dia bersemangat untuk menambah (memperbanyak) agar bisa menyamai orang tersebut (dalam hal dunia) atau mendekatinya. Dan inilah realita yang ada pada kebiasaan manusia. Adapun ketika dia melihat dalam urusan dunia kepada orang yang berada di bawahnya, tampaklah baginya kenikmatan yang Allah berikan padanya sehingga dia mensyukurinya, merendahkan hatinya dan melakukan kebaikan karenanya.” (lihat Syarah Shahih muslim karya Imam An Nawawi(.

     Oleh karena itu, marilah kita luruskan sikap kita dalam masalah keduniaan supaya hidup kita tenang dan tidak dilingkupi rasa resah dan ketidaknyamanan. Dan semoga hadits di atas dapat menjadi bahan renungan dan evaluasi bagi kehidupan kita.
Semoga bermanfaat.

Oleh: Abu Umair Al Atjehi, lc.
 ==================

Artikel: www.elmajalis.com

Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman