Keutamaan Bulan Sya'ban dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan - El Majalis

Breaking

Koleksi Sifa

April 23, 2018

Keutamaan Bulan Sya'ban dan Amalan Yang Tidak Disyariatkan

Kita sebagai kaum Mukminin tidak meragukan sedikitpun, bahwa Rosululloh  tidak meninggal dunia dan bertemu dengan Alloh , kecuali setelah Alloh  menyempurnakan Agama Islam. Sebagaimana firman-Nya: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian.“ (QS. al-Maidah: 3)

Kemudian, Alloh  menjadikan Rosululloh  sebagai penutup para Nabi, sebagaimana firman-Nya; “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian., tetapi Dia adalah Rosululloh dan penutup nabi-nabi. dan adalah Alloh Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Ahzab: 40)

Dinul Islam yang didasarkan pada Kitabulloh (al-Qur’an) & Sunnah Rosululloh  adalah cocok & sesuai untuk segala zaman & tempat serta mencakup segala sesuatu yang dibutuhkan manusia. Maka dari itu, Alloh  memerintahkan kepada kita untuk mengikutinya. Alloh  berfirman: “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya. yang demikian itu diperintahkan Alloh agar kalian bertakwa.” (QS. al-An’am: 153)

Alloh  juga memerintahkan kepada kita untuk mentaati Rosul-Nya, sebagaimana firman-Nya: “Apa yang diberikan Rosul kepada kalian, maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Alloh. Se-sungguhnya Alloh sangat keras hukuman-Nya.” (QS. al-Hasyr: 7)

Setelah itu Alloh  memerintahkan kepada kita untuk menolak segala sesuatu yang bertentangan dengan perintah-Nya, menyuruh kita mengembalikan segala urusan hanya kepada-Nya & kepada Rosul-Nya.
Alloh  berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul (Nya), dan ulil amri di antara kalian, kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia ke-pada Alloh (al-Qur’an) dan Rosul (sunnah-nya), jika kalian benar-benar beriman ke-pada Alloh dan Hari Kemudian, yang demi-kian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (QS. an-Nisa’: 59)

Dari Aisyah   berkata: “Rosululloh  selalu berpuasa hingga kami mengatakan tidak berbuka dan beliau berbuka hingga kami mengatakan tidak berpuasa. Saya tidak melihat Rosululloh  menyempurnakan puasa sebulan, kecuali Romadhon. Saya tidak melihatnya berpuasa lebih banyak darinya pada bulan Sya’ban” (HR. Bukhari)

Nabi  tidak pernah berpuasa di satu bulan lebih banyak dari bulan Sya’ban. Sesungguhnya beliau berpuasa di seluruh bulan Sya’ban. Beliau bersabda, ‘Beramallah semampu kalian karena sesung-guhnya Alloh tidak akan bosan hingga kalian bosan’. Sholat yang paling dicintai Nabi  adalah sholat yang dikerjakan secara terus menerus.” (HR Bukhari)

Dari Ummu Salamah , ia berkata, “Saya tidak melihat Nabi  berpuasa dua bulan berturut-turut, kecuali pada bulan Sya’ban dan Romadhon.” (HR. Ahmad, an-Nasa’i & at-Tirmidzi)

Inilah beberapa hadits yang menunjukkan keutamaan bulan Sya’ban dari bulan lainnya, dan tidak ada keutamaan lain selain dari yang disebutkan. Mengenai kemuliaan bulan Sya’ban dan shalat di dalamnya telah dijelaskan dalam bebera-pa hadits yang dinyatakan bahwa ini adalah hadits maudhu’ atau palsu, di antaranya adalah:
Sabda Rosululloh , “Bulan Rajab adalah bulan Alloh, bulan Sya’ban bulanku, dan bulan Romadhon adalah bulan umatku… tetapi jangan lupa tentang awal malam Jum’at dari bulan Rajab karena itu adalah malam yang dinamakan malaikat dengan ar-Raghaib. Jika sepertiga malam telah berlalu, tidak ada malaikat pendekat di seluruh langit dan bumi, kecuali berkumpul di Ka’bah dan sekitarnya, lalu datanglah Alloh  di hadapan mereka seraya berkata, ‘Wahai malaikat-Ku, bertanyalah kepada-Ku tentang apa saja sesuka ka-lian’. Lalu mereka berkata, ‘Wahai Tuhan kami, keinginan kami kepada-Mu adalah hendaklah Engkau mengampuni orang yang berpuasa di bulan Rajab’. Lalu Alloh  menjawab, ‘Aku telah melakukannya’. Kemudian, Rosululloh  bersabda, ‘Tidak seorang pun yang berpuasa pada hari Ka-mis… pada bulan Rajab, kemudian malam Jum’atnya shalat antara waktu Isya’ hingga pagi, sebanyak 12 rakaat…

Rosululloh  bersabda kepada Ali , “Wahai Ali, siapa sholat seratus rokaat pada malam Nishfu Sya’ban, disetiap roka’at membaca surat al-Fatihah dan al-Ikhlas sepuluh kali.” Nabi  bersabda, “Ya Ali, tidaklah seorang hamba yang shalat dengan shalat seperti ini, kecuali Alloh akan memenuhi setiap keinginan dan permintaannya pada malam itu…
Rosululloh  bersabda, “Barangsiapa sholat dua belas roka’at pada malam Nishfu’ Sya’ban dengan membaca di setiap roka’atnya surat al-Ikhlas tiga puluh kali, tidak keluar hingga melihat tempat duduknya di Surga….”

Dan masih banyak lagi hadits palsu yang menegaskan hal ini, seperti yang dikutip Ibnu al-Jauzi  dalam Maudhu’aat, ia berkata, “Ini adalah hadits yang tidak diragukan lagi sebagai hadits maudhu’ (palsu). Adapun ketiga jalan yang dilalui-nya, kebanyakan bodoh dan lemah sekali, yang tidak mungkin meriwayatkan hadits. Kami telah banyak melihat orang mengerjakan sholat seperti ini, mulai pertengahan malam hingga fajar sehingga paginya mereka malas atau ogah-ogahan. Sebagian imam masjid menggabungkan sholat itu dengan sholat Roghoib dan sebagainya, dalam rangka menarik orang awam dan untuk mencari dukungan kepemimpinan, lalu memenuhi majelis itu dengan kisah-kisah tentang majelis mereka sendiri, padahal semua itu jauh dari kebenaran. Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah  berkata dalam al-Manar al-Munir. Di antaranya adalah hadits-hadits maudhu’ tentang sholat Nishfu’ Sya’ban. Kemudian disebutkan, setelah meriwayatkan hadits ini, ia berkata, “Yang menakjubkan adalah orang yang men-cium bau ilmu dan sunnah, tetapi ia juga tergoda untuk mengerjakan shalat sema-cam ini?! as-Suyuthi  menyebutkannya dalam al-Lali al-Mashnu’ah, ia menetapkan bahwa ini adalah hadits Maudhu’, begitu juga asy-Syaukani  dalam al-Fawaid al-Majmu’ah.

Mereka menamakan sholat di malam Nishfu’ Sya’ban dengan nama sholat Al-fiah. Dan Jumhur Ulama sepakat bahwa sholat Alfiah pada malam Nishfu’ Sya’ban tersebut adalah tidak disyari’atkan, karena Rosululloh  tidak pernah mengamalkan, demikian juga Khulafaurrosyidin, shoha-bat, maupun imam-imam agama yang hebat, seperti Abu Hanifah, Malik, asy-Sya-fi’i, Ahmad, ats-Tsauri, al-Auza’i, al-Laits, dan sebagainya.

Maka masih adakah kedzaliman yang lebih besar dari mencampakkan hukum Alloh  dan mengambil hukum manusia?! Alloh  berfirman: “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Alloh yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Alloh? Sekira-nya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Alloh) tentulah mereka telah dibina-sakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zholim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.” (QS. asy-Syuro: 21)

Oleh karena itu, selama Din (agama) ini sempurna dan tidak memerlukan tambahan, maka tidak diperlukan lagi adanya sesuatu yang baru di dalam agama dan dalam mendekatkan diri kepada Alloh . Siapa saja yang membuat suatu amalan dan menganggapnya baik, berarti ia telah membuat syari’at tambahan, menganggap syari’at Islam belum sempurna dan tidak lengkap, harus disesuaikan dengan zaman dan tempat. Jadi, seakan-akan ia lebih tahu daripada Alloh  dan Rosul-Nya, sehingga cukuplah itu menjadi cap buruk baginya. Tetapi musuh-musuh Islam dan orang-orang yang tidak senang bila sunah tegak atau Islam menyebar, menjadikan amalan-amalan baru yang tidak disyari’atkan tersebut sebagai sesuatu yang indah di mata manusia, menampakkan-nya dalam bentuk ibadah yang penuh dengan tipuan, menyelimutinya dengan kedok zuhud, lebih mendekatkan diri kepada Alloh , dan cinta kepada Rosululloh ; padahal tujuan utamanya adalah merusak agama yang mereka anut, mencampuradukkan syari’at yang telah digariskan oleh Alloh  dan Rosul-Nya dengan amalan-amalan atau peribadahan mereka yang menurut mereka baik, menggabungkan sya’riat yang murni dengan ibadah yang bersumber dari hawa nafsu mereka. Sehingga, ibadah tersebut menja-di tradisi bagi kehidupan mereka dan sesuatu amalan yang harus dijaga. Semen-tara sunnah yang disyari’atkan justru di-buang jauh-jauh.

Maka, melaksanakan sunnah, dan meninggalkan amalan-amalan yang tidak pernah disyari’atkan merupakan perkara yang harus dilaksanakan oleh seluruh kaum Muslimin, karena amalan-amalan atau peribadahan baru dalam agama ter-sebut adalah perbuatan mungkar yang harus dijauhi, ditinggalkan, dan dirubah sesuai dengan kemampuan kita, baik dengan tangan, lisan, ataupun hati.
Ya Alloh, mudahkanlah bagi kami untuk memasuki bulan ini dengan ketentraman, keimanan, dan keselamatan. Ya Alloh, tentramkanlah kami ditempat kami tinggal, perbaikilah keadaan para pemimpin kami, berikanlah petunjuk bagi mereka untuk beramal sesuai dengan Kitab-Mu dan sunah Nabi-Mu. Wahai Dzat yang Maha Penyayang.

Sumber:
Diambil dari Buletin As-Silmi Bogor
Artikel:
www.inilahfikih.com
----------
Artikel: www.elmajalis.com

Tidak ada komentar:

Like and Share

test banner

Halaman